Baik-Buruk Indonesia
By Admin

Oleh : Yudi Latif
Saudaraku, di negeri yang lahir dari laut dan letusan gunung, angin membawa doa dari seribu bahasa, dan hujan jatuh seperti ingatan nenek moyang yang tak pernah selesai diceritakan.
Indonesia adalah sawah yang memantulkan langit, jalan kecil dengan warung kopi yang tetap hidup meski listrik padam dan dompet pas-pasan. Ia rumah bagi tangan-tangan yang ringan membantu, orang asing yang disapa ramah, dan senyum yang mengembang di tengah ongkos hidup yang melambung.
Di pasar pagi, ibu-ibu menawar sambil tertawa seolah hidup tak pernah kejam. Anak-anak berlari di gang sempit dengan layang-layang dari plastik bekas, membuktikan bahwa bahagia kadang hanya perlu angin.
Tetapi negeri ini juga menyimpan luka. Gedung-gedung menjulang seturut ambisi pembangunan, sementara di bawah jembatan orang-orang tidur memeluk suara kendaraan. Keadilan sering terlambat, tersesat di meja rapat yang dingin oleh penyejuk ruangan dan panas oleh kepentingan.
Hutan dibabat atas nama pembangunan, sungai dipenuhi busa dan janji kampanye. Laut yang dulu menyusui nelayan kini kadang lebih ramah pada kapal asing daripada anak pesisir sendiri. Di layar televisi, korupsi dibacakan seperti ramalan cuaca: berulang, biasa, nyaris tanpa rasa terkejut.
Namun rakyat negeri ini aneh—mudah kecewa, tetapi sulit menyerah. Dari gang sempit lahir musik, dari bencana lahir dapur umum, dari tragedi lahir pelukan yang tak tercatat dalam sejarah resmi.
Indonesia adalah puisi yang ditulis dengan tinta emas dan asap kebakaran. Ia lembut dalam gotong royong, tajam dalam saling menghina. Orang-orangnya teguh beragama, namun masih goyah dalam etika. Mereka memuja persatuan sambil sibuk mencari siapa yang berbeda.
Di kota besar, waktu berjalan seperti dikejar utang. Di desa terpencil, waktu duduk santai di beranda bambu. Satu negeri, namun nasib sering tak terbagi rata.
Meski begitu, negeri ini tak pernah selesai ditulis. Ia terus berjalan tanpa naskah final, tanpa kesimpulan utuh. Mungkin karena Indonesia bukan tentang sempurna atau hancur, melainkan tentang bertahan di antaranya—seperti perahu kayu di laut musim hujan, retak di banyak sisi, namun tetap pulang membawa harapan.