Dari Tanah Pembuangan ke Negeri Pelangi: Jejak Sunyi Islam di Afrika Selatan
By Admin

Sebuah Keluarga Muslim di Afsel
nusakini.com, Di ujung selatan benua Afrika, di negeri yang oleh banyak orang dijuluki Bangsa Pelangi, angin laut berembus pelan menyusuri kota-kota tua. Ia menyentuh dinding-dinding masjid, menyapa menara-menara yang menjulang sederhana, lalu berlari ke gang-gang sempit tempat anak-anak berlarian selepas mengaji. Di sana, Islam tumbuh bukan sebagai gegap gempita, melainkan sebagai nyala kecil yang setia—tenang, tetapi tak pernah padam.
Sejarahnya tidak lahir dari istana, melainkan dari pembuangan.
Pada abad ke-17, seorang ulama dari Makassar, Syekh Yusuf Al-Makasari, diasingkan oleh penguasa kolonial Belanda ke sebuah pulau sunyi: Robben Island. Ia datang bukan sebagai penakluk, bukan pula sebagai saudagar, melainkan sebagai tahanan. Namun, justru dari tanah pengasingan itulah benih-benih iman ditanamkan. Syekh Yusuf tidak membawa apa-apa selain keyakinan dan keteguhan hati. Di antara deru ombak dan getir keterasingan, ia merajut komunitas, membisikkan ayat-ayat harapan, dan mengajarkan bahwa kebebasan paling hakiki adalah kebebasan jiwa.
Dari jejak itulah, Islam pelan-pelan menemukan rumahnya.
Di Cape Town, jejak itu berlanjut melalui para ulama dan pendatang yang datang dengan perahu-perahu dagang. Syekh Abdullah Al-Kadri, seorang pemimpin spiritual dari India, menegakkan pendidikan sebagai tiang peradaban. Ia mendirikan sekolah-sekolah sederhana, tempat huruf-huruf Arab diperkenalkan kepada lidah-lidah yang beragam warna dan logatnya. Pendidikan menjadi jalan sunyi untuk membangun martabat.
Lalu hadir pula Syekh Ahmad ibn Abi Bakar, seorang sufi dari tanah Arab. Ia menanamkan dimensi batin dalam kehidupan beragama. Melalui tarekat dan pembinaan rohani, ia mengajarkan bahwa iman bukan sekadar hukum dan hafalan, melainkan perjalanan hati yang panjang—tentang sabar, tentang kasih, tentang pengharapan.
Ketiganya tidak membangun menara kekuasaan. Mereka membangun manusia.
Afrika Selatan sendiri adalah kisah tentang luka dan penyembuhan. Sistem apartheid pernah membelah manusia berdasarkan warna kulit, memisahkan bangku sekolah, taman, bahkan cinta. Namun sejarah bergerak. Tembok-tembok itu runtuh, dan masyarakat perlahan belajar duduk berdampingan. Dalam lanskap sosial yang majemuk itulah, umat Islam—sekitar dua persen dari populasi negeri—menjadi bagian dari anyaman besar bangsa.
Mereka datang dari berbagai akar: keturunan Afrika, India, Pakistan, juga Melayu-Indonesia. Sebagian adalah anak-cucu para pedagang, sebagian lagi anak-cucu para buangan. Mereka minoritas, tetapi bukan sunyi. Lebih dari lima ratus masjid berdiri di berbagai kota dan kampung, menjadi penanda bahwa iman selalu menemukan jalannya. Ratusan lembaga pendidikan Islam, dari madrasah hingga perguruan tinggi, menegaskan bahwa ilmu dan akhlak berjalan seiring.
Di bulan Ramadan, wajah komunitas ini tampak semakin teduh.
Menjelang magrib, aroma masakan menguar dari rumah-rumah sederhana. Di meja-meja makan, kurma dan air tersaji lebih dahulu, lalu hidangan khas seperti roti isi kari yang hangat dan mengenyangkan. Keluarga-keluarga berkumpul; yang tua mendoakan, yang muda mendengarkan. Masjid-masjid menjadi pusat cahaya: tarawih didirikan, ayat-ayat suci dilantunkan, ceramah-ceramah mengalir seperti sungai yang menyejukkan.
Namun Ramadan tidak berhenti pada ibadah personal. Ia menjelma menjadi gerakan sosial. Paket-paket makanan dibagikan, tangan-tangan terulur kepada yang kekurangan. Di negeri yang pernah retak oleh diskriminasi, solidaritas menjadi bahasa yang melampaui warna kulit dan latar belakang.
Ramadan di Afrika Selatan adalah perayaan yang multikultural. Di satu saf salat, kita bisa melihat wajah Afrika, Asia, dan Eropa berdampingan. Logat berbeda, tetapi doa yang sama. Tradisi beragam, tetapi arah kiblat satu. Di situlah keindahan itu terasa: keberagaman bukan ancaman, melainkan rahmat yang memperkaya.
Islam di Afrika Selatan tidak tumbuh dengan teriakan. Ia bertumbuh seperti pohon di tanah kering—akarnya menghunjam dalam, dahannya menaungi. Ia lahir dari pembuangan, diasuh oleh pendidikan, dikuatkan oleh tasawuf, dan dipelihara oleh solidaritas.
Di negeri pelangi itu, umat Islam mungkin hanya seberkas warna kecil. Namun tanpa warna kecil itu, pelangi tak lagi utuh.