Jejak Langkah di Tanah Suci Darussalam: Kala Dua Bahasa Menempa Jiwa
By Admin

Oleh : Chef Ronny Noor
Food & Kitchen Consultant / Coach
nusakini.com, Sejak ketukan kaki pertama melewati gerbang Pondok Modern Darussalam Gontor, atmosfer kedisiplinan langsung menyergap kalbu. Di sinilah berdiri tegak sebuah peradaban luhur yang dirajut dengan untaian doa, keringat, dan keikhlasan para pendirinya.
Di bawah bimbingan kiai karismatik serta dedikasi tanpa batas para guru dan senior era 89-an, segenap hidup mereka diserahkan demi kejayaan pondok. Lewat tangan dingin merekalah, Gontor menanamkan mahkota identitasnya dengan menjadikan bahasa Arab dan Inggris sebagai urat nadi komunikasi sehari-hari.
Menatap ke belakang, masa-masa itu adalah romansa kenangan yang dipenuhi dengan beragam warna. Lorong-lorong pondok menjadi saksi bisu atas kisah jenaka yang menggelitik, terutama saat kami harus bergulat keras dengan aturan kebahasaan.
Kala itu, sunyinya malam dan riuhnya siang seolah tak pernah terlepas dari pengawasan ketat. Di setiap sudut rayon hingga tataran pusat, bertebaran para jasus atau mata-mata legendaris yang selalu siap mencatat setiap patah kata yang keliru.
Pada masa itu pula, doktrin suci berupa larangan "memperkosa bahasa" ditanamkan kuat-kuat dalam sanubari kami oleh para guru dan senior. Istilah tersebut terdengar ekstrem, tetapi sarat makna karena secara lugas mengharamkan pencampuran kosakata Arab dan Inggris dalam satu embusan kalimat.
Namun, sebagai santri yang lidahnya masih kaku meniti kosakata asing, pelanggaran demi pelanggaran jenaka kerap kali tidak terbendung. Kalimat-kalimat ajaib semacam "Where are you going, ente?" atau "Look at itu, ya akhi!" sering kali lolos begitu saja dalam percakapan spontan.
Kalimat gado-gado tersebut menjadi tiket emas yang mengantarkan nama kami tercatat rapi di buku saku para jasus hingga berujung pada panggilan sidang Mahkamah Lughoh. Kini, memori tentang kekeliruan berbahasa yang menggelitik itu justru menjelma menjadi sebuah kerinduan yang sangat mendalam.
Di pondok ini, otoritas kebahasaan terbagi secara rapi sesuai dengan tingkatan kelas para santri. Langkah santri kelas satu hingga tiga dipandu oleh Central Bahasa Rayon, sementara ketegasan wibawa kelas empat hingga enam dikendalikan langsung oleh Central Bahasa Pusat.
Setiap bait kenangan itu selalu bermuara pada syahdunya suasana magrib di masjid ketika gemuruh pengumuman berkumandang selepas kami bersujud berjamaah. Salah satu momen paling mendebarkan adalah bergemanya titah dari Markaz Lughoh yang menguji kepatuhan serta ketajaman berbahasa santri senior.
Langkah kaki saya kemudian berlabuh di Gedung Baru Khibar (GBK) untuk memikul sebuah amanah sebagai Bagian Olahraga Rayon. Seiring tingginya intensitas interaksi, papan tulis hitam Mahkamah Lughoh seolah menjadi sahabat karib yang terlalu sering memajang nama saya akibat kesalahan lisan.
Hal ini bukanlah sebuah kesombongan, melainkan bentuk pengakuan jujur bahwa struktur bahasa saya kala itu masih sangat berantakan. Namun, keajaiban kawah candradimuka Gontor bekerja secara magis mengubah benturan-benturan memalukan tersebut menjadi kristalisasi mental baja.
Metamorfosis pribadi yang nyata itu mulai terasa bak fajar baru yang menyingsing dalam jiwa saat saya memasuki kelas empat. Kini, saya berdiri di dunia luar menuturkan bahasa asing dengan tegak tanpa rasa malu, sembari membisikkan kalimat kebanggaan, "My Gontor, here I'm now!"
Gontor memang tidak pernah setengah-setengah dalam menempa santrinya melalui hukum tak tertulis yang mewajibkan kami menghidupkan bahasa asing. Sungguh magis rasanya ketika pengumuman bergema menginstruksikan bahwa selama seminggu ke depan kami seolah sedang berada di London.
Seketika, atmosfer pondok berubah menjadi belahan bumi Eropa selama sepekan penuh, dan begitu pula sebaliknya dengan suasana Timur Tengah pada minggu berikutnya. Sistem kawah candradimuka sejati inilah yang secara konsisten memaksa sekaligus menuntun kami untuk menguasai dua bahasa sekaligus.
Rasa terima kasih dan takzim yang tak terhingga senantiasa saya haturkan ke haribaan Pondok Modern Darussalam Gontor. Didikan suci dari tempat inilah yang telah membawa langkah kaki saya berjalan begitu jauh hingga mampu menembus batas dunia.
Berdiri di atas fondasi kokoh tersebut, atas izin-Nya kini saya bahkan mampu mempelajari dan menguasai bahasa Denmark dengan sangat fasih. Kuncinya selalu abadi, yaitu keberanian untuk mempraktikkan, ketulusan untuk berinteraksi, serta kerendahan hati untuk tidak pernah malu dalam berucap.
Jika jiwa ini bisa menembus segala keraguan, maka saya yakin setiap orang pun pasti bisa mencapai hal yang sama. Mange tak til Pondok Modern Darussalam Gontor; jeg er så stolt over at have studeret på Gontor. Jeg vil aldrig glemme det, og jeg er så glad! (*)