Kemarau Panjang Landa Sentra Produksi, Cabai dan Beras Dorong Inflasi Ibu Kota
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Laju inflasi di wilayah DKI Jakarta pada September 2026 tercatat berada di angka 0,13 persen secara bulanan. Angka tersebut dilaporkan lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi nasional yang menyentuh 0,30 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menyampaikan data pergerakan harga tersebut pada Sabtu (3/10/2026). Ia menyebut laju inflasi ini juga dinilai melambat jika disandingkan dengan capaian Agustus 2026.
Secara tahunan, inflasi ibu kota tercatat stabil pada level 2,71 persen. Catatan indeks harga tersebut diklaim sebagai yang terendah di seluruh wilayah Pulau Jawa.
Kelompok makanan dan minuman dilaporkan menjadi penyumbang terbesar dengan mencatatkan inflasi 0,46 persen. Menurut pantauan bank sentral, kenaikan harga komoditas ayam ras, beras, dan cabai rawit menjadi pemicu utamanya.
"Tekanan inflasi terutama dipicu kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras," ujar Iwan merinci faktor penyebabnya. Ia menambahkan bahwa faktor kemarau dan naiknya harga pakan ternak diduga sangat mempengaruhi kondisi pasar.
Namun, panen raya komoditas tomat dan bawang merah disebut berhasil menahan laju inflasi pangan lebih lanjut. Pasokan kedua bahan dapur tersebut terpantau berlimpah sehingga menekan gejolak harga di Jakarta.
Sementara itu, sektor kesehatan justru mengalami peningkatan inflasi akibat tingginya permintaan masker pelindung pernapasan. Hal ini dikaitkan dengan kekhawatiran warga terhadap potensi sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Di sisi lain, sektor transportasi dilaporkan menyumbang deflasi sebesar 0,10 persen di ibu kota. Penurunan tarif tiket penerbangan menjadi penyebab utama meski sempat ada kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.
Pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan. Strategi empat pilar pemantauan harga dilaporkan terus dijalankan untuk menekan potensi gejolak ekonomi.
"Melalui berbagai upaya tersebut, inflasi Jakarta diharapkan tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen pada 2026," sebut Iwan menutup pemaparannya. Sinergi dengan berbagai pihak berwenang akan terus diperkuat guna menghadapi ancaman fenomena El Nino.
Program pasar murah dan penyaluran beras stabilisasi dilaporkan menjadi andalan pemerintah daerah saat ini. Langkah intervensi ini dinilai efektif untuk menjangkau masyarakat kelas menengah ke bawah.
Distribusi pangan juga terus dioptimalkan menggunakan layanan armada truk keliling ke berbagai wilayah pemukiman. Semua langkah antisipasi ini disiapkan demi menghadapi ketidakpastian kondisi cuaca global. (*)