Ketika Negara Berhenti Diam: Pesan Keras dari Podium Presiden

By Admin


Presiden Prabowo/ Setneg
nusakini.com, Nada Presiden Prabowo Subianto di Sentul tak biasa. Bukan sekadar laporan kinerja atau deretan angka. Yang terdengar adalah kemarahan negara terhadap cara kekayaannya dikelola.

Selama bertahun-tahun, aset BUMN disebut tersebar di ratusan bahkan ribuan perusahaan. Terlalu banyak pintu, terlalu sedikit pengawasan. Kini, semuanya dikunci dalam satu brankas bernama BPI Danantara.

Namun konsolidasi saja tak cukup. Dari podium, Prabowo mengirim sinyal lain: masa lalu tidak otomatis dilupakan. Mereka yang pernah duduk di kursi kekuasaan BUMN, menurut Presiden, harus siap menjelaskan apa yang mereka lakukan.

Ia memang tidak menyebut nama. Tidak pula menjatuhkan vonis. Tetapi pesan itu telanjang: negara sedang membuka buku lama, halaman demi halaman.

Bagi publik, ini bukan sekadar soal manajemen. Ini tentang siapa yang bertanggung jawab ketika uang negara dikelola tanpa hasil yang sepadan. (*)