Memotret Kegelisahan Anggaran: Saat Administrasi Menahan Lapar di Lapangan

By Admin


Ilustrasi Pengelola SPPG

nusakini.com, Di sudut-sudut wilayah yang senyap belakangan ini, piring-piring makan yang semestinya mengepulkan harapan justru teronggok kosong menanti kepastian. Misi besar pengentasan gizi ini seolah membeku, tertahan oleh deretan angka dan formulir laporan harian yang diduga gagal dirampungkan oleh para pelaksana di lapangan.

Di balik meja-meja birokrasi, nasib ratusan perut yang keroncongan ternyata sangat bergantung pada kedisiplinan administratif yang terindikasi masih sering terabaikan. Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menyadari betul bahwa kelalaian operasional dalam sistem pelaporan ini sanggup meruntuhkan seluruh arsitektur niat baik negara.

"Kondisi tersebut berkaitan dengan pelaporan penggunaan dana, lalu kesesuaian data penerima manfaat, serta disiplin SPPG dalam menggunakan anggaran," tutur Tysa memecah kebuntuan ruang informasi. Ia menyiratkan bahwa kelalaian yang tampak sederhana ini justru menjadi rintangan tak kasat mata yang menjerat denyut nadi operasional.

Ada jurang lebar antara tumpukan dokumen perencanaan dan realitas di jalanan, di mana wajah-wajah penerima bantuan disinyalir kerap tidak selaras dengan catatan resmi. "Kesesuaian antara penerima manfaat yang dilayani dengan data Surat Penetapan Sementara (SPS) 2 diperlukan agar pelaksanaan Program MBG berjalan tepat sasaran," tambah Tysa.

Ironi terbesar justru terletak pada bayang-bayang kehabisan dana sebelum waktunya, sebuah malapetaka senyap yang mengintai akibat tata kelola yang terindikasi jauh dari kata tertib. "Atau bisa saja SPPG yang bersangkutan itu juga mengalami kehabisan dana karena tidak disiplin dalam penggunaan dana sebagaimana yang telah ditetapkan," pungkas Tysa menutup laporannya. (*)