Meracik Adab Kiai Di Dapur Kopenhagen

By Admin


Ket. Foto : Penulis (Berkaos) Bersama Ust. Ismail, Ust. Ma'ruf Chumaidi Dan Istri


Oleh : Chef Ronny Noor
Food Kitchen Consultant & Couch


nusakini.com, Menjadi kepingan dari denyut nadi Pondok Modern Darussalam Gontor, sejak tapak pertama diayunkan, bukanlah sekadar kebetulan mampir di sebuah persimpangan. Ia adalah semacam takdir cinta yang dipahat oleh Sang Khalik di atas kerasnya batu karang kehidupan.

Di bawah tikaman matahari Mataram selewat bangku SMPK, bocah tanggung ini berdiri meradang di hadapan almarhum Abahanda. Ada sejenis api yang tak sudi diajak kompromi; mendesak agar segera dilabuhkan ke rahim pesantren di Ponorogo itu.

Almarhum Abahanda, seorang pamong praja yang telah kenyang menelan getah-getir realitas, hanya bisa menarik napas panjang meraba kepenatan rute yang merentang. Pesawat mengudara ke Surabaya kala itu belumlah lazim, sekadar barang langka yang menampakkan diri sekali dalam sehari.

Maka terbentanglah rute peziarahan darat yang menuntut kesabaran estafet dari Lembar menuju Padang Bai. Membelah punggung Bali menuju Denpasar, hingga merayap bak musafir di tepian ujung timur Jawa, Banyuwangi.

Saya menatap mata lelah beliau, lalu dengan suara bergetar namun dibalut baja berkata: "Bila langkah ini ditunda esok atau lusa, lebih baik urung sama sekali, dan kita gagal total!" Syukurlah, benteng keraguan seorang bapak akhirnya runtuh seketika oleh keteguhan hati sang anak.

Beliau mengalah, melangkah pasti membawa saya memburu gerbong kereta api menuju jantung Surabaya. Atas kebaikan budi sanak saudara di kota buaya, sebuah kendaraan pinjaman akhirnya mengantarkan kami menembus jalanan menuju gerbang Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dan tatkala gerbang raksasa itu tertutup, melepas Abahanda yang harus bergegas kembali ke timur, terkuaklah robekan sanubari yang paling purba. Saya yatim piatu dalam sekejap, berdiri memeluk tangis di bawah bayang-bayang menara Gontor yang sakral dan diam menyaksikan.

Namun, air mata santri baru pantang dibiarkan cengeng berlama-lama di tanah para kiai ini. Kehadiran para Konsul Kalimantan dan NTB, dengan tangan terbuka dan dada yang lapang, segera memeluk erat jiwa-jiwa asing yang menggigil merajut mimpi.

Menjelang Ramadhan, kawah candradimuka itu pun mulai mendidih. Bimbingan belajar menderu siang dan malam, meremas keringat dan kantuk, hingga semesta mencatat saya resmi diterima di rahim pondok.

Lulus dari saringan yang sedemikian ketat tanpa sepotong surat sakti apalagi koneksi orang dalam, sungguh membuahkan rasa syukur yang teramat suci. Di Gedung Baru Kibar (GBK) yang menghadap Qoah—saksi bisu sejarah Gontor—hak istimewa kami diuji lewat kepulan asap tembakau dan keizinan menembus pekat malam demi mendaras ilmu.

"Sederhana bukan berarti miskin." Sepotong warta luhur itu merasuk menembus sumsum tulang, menanamkan fondasi kemanusiaan yang liat dan tahan banting.

Ingatan ini kerap ditarik kembali pada detik-detik sakral tatkala kemudi berpindah tangan di tahun 1985. Ketika kepemimpinan sepuh berpulang, dan resah sempat menyelimuti umat, ketetapan Ilahi justru melahirkan Trimurti Generasi Kedua yang tangguh: KH Shoiman Luqmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, dan KH Hasan Abdullah Sahal, bertandem dengan almarhum KH Imam Badri selaku Direktur KMI.

"Berjasalah, namun pantang meminta jasa." Tuah kalimat itu berdengung abadi, bersanding dengan peringatan luhur bahwa di dahi kami telah tercap huruf PM yang menuntut pertanggungjawaban moral seumur hidup.

"Bahkan jarum yang jatuh pun niscaya akan terdengar." Sebuah kiasan tajam tentang pengawasan mutlak, disiplin baja, dan ketajaman nurani yang tak dibiarkan tertidur lelap sedetik pun.

Saya masih menyimpan rapi ingatan tatkala KH Hasan Abdullah Sahal berdiri tegak di Qoah, membagikan telajaran luhur tentang adab bersantap. Beliau meletakkan etika di atas piring hidangan, mengajarkan bagaimana seorang manusia merdeka memperlakukan rezeki dengan penuh takzim.

Siapa nyana, bekas didikan kiai itu kelak menjadi kompas yang menuntun langkah saya menyeberang benua. Berdiri sebagai juru masak di Kopenhagen, Denmark, adab Gontor itulah yang saya adon dan sajikan saat melayani para menteri, pejabat lembaga, pengasuh pesantren, hingga tetamu hotel dan restoran berkelas.

"Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan."

Di usianya yang menginjak satu abad, Pondok Modern Darussalam Gontor tetaplah mercusuar yang tak lelah menyorotkan cahaya ke segala penjuru angin. Kepada para Trimurti, para kiai, guru-guru kami, dan pahlawan tanpa tanda jasa yang memahat kami dari ketiadaan menjadi manusia seutuhnya, semoga Sang Khalik merengkuh beliau semua dalam dekapan husnul khotimah. Amin Ya Rabbal 'Alamin.