Pemerintah Siapkan Insentif Baru Selamatkan Ekosistem Mobil Listrik Nikel

By Admin


Dok. PT Vale Indonesia

nusakini.com, PT Vale Indonesia Tbk memprediksi industri baterai kendaraan listrik akan merajai serapan nikel global pada tahun 2030 mendatang. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Direktur Vale Budiawansyah dalam acara Grand Seminar Hipmi pada Kamis (6/8/2026).

Pergeseran permintaan ini diyakini akan mengalahkan dominasi industri baja nirkarat yang selama ini menjadi penyerap utama produk nikel. Kondisi tersebut mendorong perusahaan tambang untuk meningkatkan produksi produk perantara demi memenuhi kebutuhan material katoda baterai.

Berdasarkan proyeksi Shanghai Metals Market, pangsa produksi material katoda Indonesia diduga bakal melonjak hingga 20 persen pada akhir dekade ini. Sementara itu, tren pertumbuhan produk turunan untuk industri baja konvensional diproyeksikan tumbuh melambat di kisaran 10 persen.

Fenomena ini juga diikuti oleh tren harga mobil listrik berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) yang makin kompetitif di pasaran. Budiawansyah menyebut efisiensi manajemen sumber daya membuat harga kendaraan NMC kini mulai mendekati mobil berbasis material alternatif yang lebih murah.

Di sisi lain, lembaga riset BMI menyoroti adanya potensi perlambatan pertumbuhan permintaan nikel global pada tahun 2026 nanti. Perlambatan ini diduga terjadi akibat tingginya adopsi baterai berbahan dasar besi fosfat yang dinilai lebih ekonomis.

Merespons dinamika pasar tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mulai menyiapkan strategi kebijakan khusus. Ia membuka peluang pemberian insentif tambahan untuk mobil listrik berbasis nikel saat ditemui di kantornya pada Senin (3/8/2026).

Bantuan insentif tersebut diharapkan mampu mendongkrak ekosistem kendaraan listrik nasional dari sektor hulu hingga ke hilir. Bahlil menegaskan bahwa baterai NMC tetap memiliki keunggulan komparatif yang menjanjikan, khususnya pada aspek ketahanan daya jelajah.

Pemerintah juga menyadari bahwa Indonesia saat ini telah memiliki dua fasilitas pabrik baterai yang bersiap untuk beroperasi penuh. Salah satu fasilitas perakitan tersebut merupakan hasil kerja sama strategis dengan perusahaan penyedia teknologi global asal Tiongkok. (*)