Perubahan Sikap Mama Sinta dan Tantangan Komunikasi PSN di Papua Selatan

By Admin


Mama Sinta/ Ist
nusakini.com, Perubahan sikap yang disampaikan Mama Sinta memperlihatkan kompleksitas relasi antara masyarakat adat, kelompok advokasi, dan pemerintah dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan.

Dalam beberapa waktu terakhir, proyek lumbung pangan di wilayah tersebut memang menjadi perhatian karena memunculkan dua arus besar: dorongan pembangunan ekonomi dan kekhawatiran atas dampak sosial maupun lingkungan.

Pernyataan Mama Sinta memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat di tingkat akar rumput tidak hanya memandang proyek dari sisi politik atau lingkungan, tetapi juga dari kebutuhan ekonomi sehari-hari. Akses pekerjaan, kondisi rumah, hingga kebutuhan keluarga menjadi faktor yang memengaruhi sikap warga terhadap proyek pemerintah.

Di sisi lain, bantahan dari kelompok masyarakat sipil menunjukkan masih adanya perbedaan tafsir mengenai posisi dan aspirasi masyarakat adat yang terlibat dalam gerakan penolakan PSN.

Situasi ini memperlihatkan pentingnya transparansi komunikasi dan pendampingan terhadap warga dalam setiap proses advokasi maupun pembangunan. Ketika suara masyarakat dibawa ke ruang publik melalui kampanye, dokumenter, atau media sosial, aspek persetujuan dan pemahaman warga menjadi isu yang sensitif.

Bagi pemerintah, dinamika ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan proyek strategis tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari sejauh mana masyarakat lokal merasa dilibatkan dan memperoleh manfaat langsung. (*)