Tahlil Untuk Mas Guruh Dan Takwil Atas Renjana

By Admin


Tahlilan Almarhum Guruh Sukarno Putra

Oleh : Ahmad Najib


nusakini.com, Ketika ditanya Tempo tentang perannya sebagai Sunan Muria dalam film Sembilan Wali (Wali Sanga), 1985, Guruh Sukarno Putra mengaku tidak kesulitan karena secara geneacologis dia adalah trah Sunan Kalijaga dari garis buyut perempuan dari pihak ayahnya. Ditambah lagi latar studi arkeologi nya di Universiteit van Amsterdam yang memberinya banyak wawasan masa lalu tentang kisah Wali Sanga.

Sebagai seorang yang memiliki trah Sunan Kalijaga yang menggunakan kesenian sebagai alat dakwahnya, serta aliran darah Bali dari neneknya, seni teramat melekat dalam diri sosok Mas Ruh ini.

Dan sebagai bocah yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan istana sebagai episentrum kekuasaan, harusnya ia mudah menumbuhkan dan menyalurkan bakatnya ini. Tapi ternyata semua harus diperjuangkan. Bagi Guruh, sedari kecil kesenian harus dia perjuangkan untuk selanjutnya ia gunakan sebagai alat perjuangan.

Dalam buku biografi Sukarno yang ditulis Cindy Adams, ketika Guruh minta dibelikan piano, Sang Bapak yang adalah Presiden itu tidak langsung mengabulkan. Ia minta Guruh untuk belajar yang giat dulu, nanti jika naik kelas, bari dibelikan piano.

Bayangkan. Yang dia minta itu hanya piano, bukan mobil balap. Tapi begitulah cara Bapak Bangsa ini mendidik anaknya untuk tidak manja dan berjiwa pejuang.

Pencak kreativitas nya meledak saat ia baru pulang studi di Belanda tahun 1977 dimana ia ditantang untuk membuat karya dengan fasilitas yang baru ada di Indonesia saat itu, alat recording 16 track. Studio Tri Angkasa milik Alex Komara ini membebaskan Guruh dan kawan kawan untuk bereksperimen dengar alat baru ini meski belum ada operator yang mempu mengoperasikan saat itu.

Kesempatan tak disia-siakan. Guruh bersama teman sekolahnya dulu, Keenan Nasution, Abadi Soesman, Oding Nasution, Chrisye, dan Ronny Harahap seta sejumlah pemain gamelan yang dinakhodai I Wayan Suparta, dan beberapa vokalis tambahan. Mereka mungkin mendapat fasilitas untuk mengekspresikan kesenian, tapi satu hal yang tidak mereka dapati; dana.

Di zaman ketika rezim yang berkuasa adalah rezim yang ingin menenggelamkan nama bapaknya dalam sejarah, tentu tidak mudah mencari sponsor ataupun produser. Terpaksalah proyek Guruh Gipsy ini dilakukan dengan bergerilya. Orang orang yang dimintai dana hanya memberi sekedarnya yang biasanya hanya cukup buat konsumsi makan malam saja. Beberapa nama yang diminta bantuan membuat aransemen seperti Ibu Trisuci Kamal bekerja tanpa dibayar.

Hingga akhirnya di tahun 1978 album itu baru selesai. Sebuah album musik yang mengawinkan nada pentatonik pelog dan slendro dengan nada diatonik rock progresif. Kawin silang musik Barat dan timur. Ini tentu tidak mudah dilakukan.  Sebuah album idealis yang ingin menempatkan bahwa musik tradisional bisa berdiri sejajar dengan musik barat yang saat itu sedang digandrungi publik Indonesia.

Atas usulan Guruh pula, album ini tidak hanya menjual kaset tapi juga disertai semacam booklet yang menerangkan latar dan pemikiran tiap lagu di dalamnya. Sebuah mahakarya yang bukan untuk didengar tapi untuk difahami. Bukan untuk menjadi hits tapi untuk mendobrak kevakuman kreasi. Album ini menjadi tonggak sejarah musik Indonesia karena tersirat keberanian untuk memulai. Itulah mengapa album menyabet banyak penghargaan, ternasuk Anugerah Musik Indonesia (AMI) yang menempatkannya sebagai album terbaik kedua sepanjang masa di tahun 2007.

Namun sukses estetis ini tidak diimbangi dengan sukses komersial. Tidak ada label maupun distributor yang mau menjual. Tidak ada promosi radio maupun video klip di TV untuk menopang penjualannya. Lagi lagi, mental pejuang Guruh dan kawan kawan diuji kembali. Kaset yang dikemas dengan booklet tadi dijual secara gerilya.

Untuk ini bahkan Guruh tidak segan membuka lapak berupa tenda di Taman Binaria Ancol untuk berjualan kaset. Mungkin ini adalah  label Indie pertama di negeri ini yang semua pengerjaan hingga penjualannya dilakukan sendiri. Oleh seorang anak mantan Presiden.

Tapi dari pemasaran gerilya inilah perlahan membuka namanya bukan saja dikenal, tapi juga dihargai dan diapresiasi. Sosoknya diperhitungkan dalam blantika musik nasional.

Mundur di tahun 1976, Guruh menyertakan dua lagu karyanya dalam Festival Lagu Indonesia Populer, Damai dan Renjana. Keduanya masuk final dan Renjana berhasil memenangkan festival tersebut serta berhak mewakili Indonesia di World Popular Song Festival di Budokan Tokyo.

Debut awal yang sangat mengesankan bagi seorang komposer maski di ajang internasional itu masih belum menyabet penghargaan. Barulah di tahun 1987, di festival yang sama, Guruh menyusun lagu Kembalikan Baliku yang dinyanyikan Yoppy Latul meraih special award dari Kawakami.

Eksplorasi keseniannya tak sebatas musik. Guruh meramu keseluruhan kemampuan seninya lewat wadah Swara Mahardhika (SM) yang mengaduk antara musik, tari, fesyen, dalam satu panggung. Pertunjukan nya penuh gebyar mewah dengan elemen tradisi Indonesia yang kental. Lewat wadah ini Guruh tak hanya ingin menyalurkan aspirasi perjuangannya yang ingin mengangkat seni tradisional dalam panggung  kolosal yang bergengsi, tapi juga menjadikan SM sebagai wadah pembinaan generasi muda untuk terus mencintai Indonesia dan segala tradisinya. Diantara alumninya ada Denny Malik, Memes, Titi DJ, hingga Marissa Haque.

Tidak ada jalan pintas dalam perjuangan. Tiap pementasan SM selain dihadang dengan beragam perizinan yang ribet juga kerap mendapatkan sensor, seperti dilarangnya gambar banteng di panggungnya. Padahal menurut Mas Guruh, banteng bukan merujuk pada lambang parpol tertentu, tapi sebagai simbol kedaulatan rakyat. Pernah lagi, dalam pementasan SM tahun 1997, setelah pemilu terakhir orde baru, sehari menjelang pementasan (H-1), datang larangan untuk tidak menampilkan warna merah dan hijau di panggung dalam bentuk apapun.

Semua warna merah termasuk pink juga dilarang. Bisa dibayangkan betapa kesalnya buat seorang sutradara menghadapi persoalan begini. Tapi Mas Guruh tetap tenang dan berdoa untuk kebaikan rakyat Indonesia. Akhirnya dengan segala cara, pentas pun tetap berjalan dengan menghilangkan warna merah dan hijau. Rezim absurd memang. Kenapa harus paranoid dengan warna.

Ada momen yang pernah dialami Mas Guruh sebagai moment yang sangat emosional, yaitu ketika ingin mementaskan karya untuk sang ibunda tercinta, Fatmawati. Ia membuat lagu Melati Suci yang diaransemen oleh Chandra Darusman dan dinyanyikan lewat vokal Tika Bisono. Saat memproses lagu ini, tiba tiba ada telepon dari Mekkah. Dari Ibunda Fatmawati yang sedang umrah.

Momen itupun digunakan oleh Guruh untuk menyampaikan niatnya buat sang bunda dan memperdengarkan lagu nya. Komentar sang bunda. “Indah sekali. Saya seperti melihat surga”. Dan Ibu Fatmawati pun belanja untuk mendukung keperluan pentasnya di Mekkah berupa manik, payet, dan aksesori lain yang tidak ditemukan di pasar Jakarta. Namun dalam perjalanan pulangnya, saat pesawat transit di Kuala Lumpur, Ibu Fat menghembuskan nafas terakhir yang konon akibat serangan jantung. Ibu Fat pergi dengan firasat “melihat sorga”.



Meski tanpa kehadiran fisik Ibunda, pentas Melati Suci tetap diselenggarakan. Kali ini Ibu Fat hadir secara spirit. Ia hadir dalam wujud manik dan segala aksesori yang dipakai para artis pendukung pentas.

Pada lagu Renjana yang bagi telinga yang tidak peka nada, akan terdengar seperti orang mengigau, Namun dibalik lirik yang sangat puitis itu, sebagaimana Mas Guruh biasa menulis, tersimpan misteri tentang peristiwa apa yang ingin diungkapkan oleh sang penulis. Denny Sakri memberi takwil bahwa lagu itu menggambarkan situasi saat Indonesia dalam situasi chaos yang kemudian menyingkirkan ayahnya dari kekuasaan. Di tengah kegelapan yang menggelisahkan itu ia masih berharap ada harapan yang digambarkan sebagai Padang rumput hijau tempat bersemi hayatnya.

Namun dalam takwilan penulis, sepertinya itu gambaran menjelang akhir hayatnya dimana ia akan menemukan padang rumput hijau itu dimana ia akan menyemai hayatnya yang baru. Kematian justru babak baru dalam kehidupan di dimensi lain.

Sabtu 26 September 2026 di usia 73 tahun, ia pergi tepat saat fajar menyingsing. Yang dalam hitungan kalender Saka tepat di saat Purnama sasi kapat, atau Purnama Kartika yang adalah purnama terindah, saat kemarau menjelang berakhir, saat halimun mulai turun dan hujan belum sepenuhnya turun. Rembulan berpendar dibalik tabir halimun yang menyelimuti dingin malam. Selanjutnya mari kita cermati lirik lengkapnya;

Di malam hening
Tertegun, ku merenung
Menanti fajar
Tak kunjung datang
Sukmaku bergetar
Digenggam halimun dingin
Terkungkung langit nan kelam
Oh-oh
Pagi pun datang
Meremang cah′ya rawan
Seakan segan
Menyongsong siang
Hatiku merintih
Ditindih derita beku
Merana berkawan sunyi

Tetesan embun
Mengusir mimpi
Ku terjaga, ku meronta
Kutinggalkan mimpi hampa

Oh-ho
Angin kembara
Menebar wangi bunga
Menepis mendung
Mengusap embun
Hasratku menderu
Menuju dataran hijau
Tempat bersemi hayatku

Dan anak dari Putra Sang Fajar itupun menghembuskan nafas terakhir menjelang fajar.

Terimakasih, Mas Guruh. Sukmamu abadi dalam karya karyamu yang akan terus kami kenang.

Terimakasih, Mas Guruh. Halaman ini terlalu sempit untuk menggambarkan semua kebesaranmu. Sepanjang hidup telah kau Gunakan Ragamu Untuk Hiburan.