Bangun Pasar Rp 140,5 Miliar, Mendag Blusukan Hingga Perbatasan PNG

By Admin

nusakini.com--Kementerian Perdagangan terus berkomitmen membangun ekonomi kerakyatan dengan membangun infrastruktur pasar. Tak kurang dari Rp 140,5 miliar dikucurkan  untuk membangun pasar di Papua dan Papua Barat. Menteri Perdagangan Thomas Trikasih  Lembong (Tom) blusukan ke sejumlah pasar di Papua bekerja sama dengan Pokja Papua hingga memantau Pasar Skow, di Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua. Pasar Skow merupakan pasar perbatasan antara Papua dan Papua Nugini. 

“Pemerintah fokus membangun infrastruktur pasar untuk meningkatkan perekonomian rakyat di  daerah. Seperti di Pasar Skow ini. Keberadaanya harus dimaksimalkan. Bukan hanya sebagai pusat perekonomian masyarakat setempat, pasar ini juga merupakan pasar ekspor dengan pembeli yang berasal dari Papua Nugini,” jelas Mendag. 

Menurut Mendag, Pasar Skow masih bisa dikembangkan aktivitasnya dengan mengoptimalkan  tata kelola. Pasar yang buka selama enam hari dalam seminggu ini, hanya ramai dikunjungi di hari  Selasa dan Kamis oleh pembeli dari Papua Nugini. Padahal, potensi pasar ini sangat besar. “Kita  harus mulai memikirkan agar aktivitas Pasar Skow dapat terus ramai, tanpa bergantung pada pembeli dari Papua Nugini. Kita harus mengoptimalkan tata kelola agar hasilnya maksimal,” imbuh Mendag. 

Pasar Skow dibangun selama empat tahun, yaitu pada tahun 2007, 2008, 2009, dan 2011 dengan  total anggaran Rp 20,5 miliar. Pasar ini diresmikan pada 2 Februari 2012. Pasar Skow dibangun atas kerja sama Kemendag dengan Pemerintah Provinsi Papua melalui Dana Tugas Pembantuan tahun 2007. Pasar ini memiliki 200 kios dan ditempati oleh 280 pedagang termasuk pedagang kaki lima dan mama-mama penjual pinang. 

Selain Pasar Skow, Mendag juga memantau kondisi Pasar Youtefa. Usai memantau Pasar Youtefa,  Mendag berdialog dengan para pedagang setempat didampingi oleh Walikota Jayapura Benhur Tommy Mano. Para pedagang diberikan kesempatan untuk mengutarakan permasalahan yang terjadi di Pasar Youtefa kepada Mendag. 

Menurut Mendag, pasar ini memerlukan revitalisasi dikarenakan kondisinya yang sering  mengalami kebanjiran pada saat turun hujan dan kondisinya mulai rusak. “Perbaikan pasar ini  akan segera dilakukan,” jelas Mendag menanggapi keluhan para pedagang. 

Pada saat ini, Pasar Youtefa telah selesai lelang perencanaan dan tengah memasuki tahap lelang  fisik dan pengawasan. Di akhir April 2016, Mendag Tom juga telah melakukan peletakkan batu pertama pembangunan Pasar yang menampung sekitar 515 pedagang.

Sehari sebelumnya, mengawali rangkaian kunker ke Papua, Mendag mengunjungi Pasar Sentral  Moanemani di Kabupaten Dogiyai dan Pasar Sentral Kalibobo di Kabupaten Nabire. “Pasar-pasar di  pedalaman seperti di Dogiyai harus difokuskan karena merupakan sarana yang sangat mendasar bagi rakyat,” ujarnya. 

Dogiyai merupakan kabupaten di Provinsi Papua yang berada di wilayah pegunungan yang  letaknya berada di wilayah selatan Nabire. Dogiyai merupakan daerah strategis, karena menjadi  titik penghubung perdagangan serta transportasi antara daerah pegunungan dan daerah pesisir Papua. “Diharapkan dukungan Pemerintah terhadap keberadaan pasar-pasar tradisional ini  dapat memajukan perekonomian masyarakat di pedalaman,” imbuhnya. 

Mengakhiri kunjungan kerjanya di Papua, Mendag menghadiri Dialog "Membangun Ekonomi  Kerakyatan yang Berkeadilan" bersama tokoh agama dan pemuda muslim di Sekolah Tinggi Agama  Islam Negeri (STAIN), Al-Fatah, Jayapura. Selain Mendag, hadir sebagai pembicara Rektor STAIN  Idris Al Hamid, serta moderator Umar Warfete, dosen Bahasa Inggris di STAIN. 

Dalam dialog ini, Mendag menekankan pentingnya perdagangan yang diatur dan terkendali.  Mendag minta para pedagang berjualan dengan jujur agar tercapai perdagangan yang sehat. (p/ab)