Di Balik Kelegaan Purbaya: Mewariskan Utang Whoosh ke Generasi Berikutnya
By Admin

Purbaya Yudhi Sadewa
nusakini.com, Senyum lega akhirnya terpancar jelas dari wajah Purbaya Yudhi Sadewa setelah menyelesaikan proses administrasi pergantian pucuk pimpinan bendahara negara pekan ini. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih ringan saat meninggalkan area kantor kementerian yang selama ini menjadi pusat pemikiran urusan fiskal nasional.
Beban psikologis yang sempat membayangi pikirannya terkait pemenuhan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung seolah ikut tertinggal di lorong gedung tersebut. Pengelolaan liabilitas dari transportasi massal yang dikenal luas dengan sebutan Whoosh ini kini sepenuhnya berpindah tangan dari BPI Danantara ke kementerian.
Dalam sebuah perbincangan belakangan ini, ia nyaris tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya karena tidak lagi harus memutar otak mencari dana pelunasan. "Kan bukan gue menteri keuangannya. Alhamdulillah, selamat gue," kelakarnya yang seolah mewakili kebebasan barunya sebagai warga sipil biasa.
Kisah restrukturisasi pembiayaan proyek bernilai triliunan ini memang cukup menyita perhatian khalayak karena perpanjangan tenor cicilan yang terbilang ekstrem. Purbaya pada masa jabatannya sempat menyinggung bahwa kewajiban angsuran tersebut terpaksa direntangkan hingga batas delapan dekade demi menjaga keseimbangan neraca keuangan.
Nilai angsuran tahunan yang diproyeksikan menyentuh kisaran satu triliun rupiah diyakini masih berada dalam batas toleransi brankas anggaran negara. "Iya kita sudah mati, santai saja," ucapnya dengan nada santai merujuk pada rentang waktu pengembalian yang dipastikan akan melampaui usia generasinya.
Mekanisme pelunasan utang bernapas panjang ini rencananya akan disandarkan langsung pada pundak perusahaan Special Mission Vehicle atau otoritas investasi INA. Pemerintah meyakini lembaga-lembaga pengelola aset tersebut memiliki kekuatan finansial yang sangat memadai dari hasil akumulasi keuntungan operasional tahunan mereka.
Purbaya secara pribadi meyakini bahwa tingkat keuntungan dari entitas kementerian sudah lebih dari cukup untuk menambal beban tagihan rutin Whoosh. "Ada kemungkinan, mungkin kita pakai SMV atau INA," tuturnya memberikan secercah pandangan terkait siapa entitas penanggung jawab di masa depan.
Mega proyek yang ditaksir bernilai miliaran dolar ini pada akhirnya menjelma menjadi warisan yang mengikat keuangan negara akibat tingginya lonjakan biaya. Pendanaan dari sektor pinjaman luar negeri yang begitu dominan mau tidak mau menuntut langkah penyelesaian cermat agar generasi mendatang tidak menanggung getahnya. (*)