Kendalikan Ulat Grayak, Salah Satunya Gunakan Feromon Exi

By Admin


nusakini.com - Terkait ramainya pemberitaan tentang kejadian saat Presiden Jokowi bertemu dengan sekelompok petani dan membawa dua karung penuh daun bawang merah yang terserang ulat grayak di Kecamatan Larangan, Brebes, Senin (11/4/2016), Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan tanggapan bahwa hal tersebut bisa jadi merupakan hasil pemotongan daun berulat.

Menurut Kementan, kegiatan pemotongan daun yang berulat bukan merupakan kejadian yang luar biasa, melaikan bagian dari kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan petani sampai tanaman bawang merah berumur 45 hari. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari teknologi pengendalian.

Umumnya para petani bawang merah di Kabupaten Brebes pestisida minded, sehingga menurut Kementan, kemungkinan besar ulat grayak tersebut memiliki kekebalan terhadap pestisida yang beredar di pasaran.

Karenanya disarankan perlunya pengaturan peredaran pestisida oleh Pemda, termasuk di dalamnya rotasi peredaran pestisida.

Kedua, perlunya memberikan pengajaran pada petani tentang cara bijak pemanfaatan pestisida. Hal ini penting karena petani Brebes masih sangat sulit dipisahkan dari pestisida.

Ketiga, perlu dikenalkan teknologi pengendalian yang lain dalam koridor Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Saat ini Badan Litbang Pertanian (Baligbangtan) tim penelti ke Brebes untuk melihat fakta di lapangan.


Ulat bawang (spodoptera) yang oleh para petani dikenal sebagai ulat grayak ini ketika menjadi serangga dewasa (imago) merupakan ngegat dengan sayap depan berwarna kelabu dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago betina meletakkan telurnya secara berkelompok pada ujung daung bawang.

Teknologi pengendalian hama ulat grayak ini telah banyak diteliti antara lain dengan pemasangan lampu perangkap (light trap). Para petani di wilayah Cirebon dan Brebes sudah banyak menerapkan teknologi ini.


Di samping itu juga dapat menggunakan Feromon Exi yang dapat diaplikasikan area petanaman setiap hektar, dengan 12-24 perangkap. Setiap perangkap diisi dengan air sabun . Feromon Exi ini mulai dipasang saat tanam dan dan dapat tahan sampai 2 bulan atau satu musim tanam

Penggunaan sungkup kain kasa dapat menekan populasi telur dan larva serta intensitas kerusakan tanaman yang secara tidak langsung juga mampu meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun serta jumlah umbi bawang merah. Kelambu kasa plastic tahan sampai 6-8 musim tanam. Di daerah Probolinggo sudah banyak diterapkan oleh petani.

Pengendalian secara manual dengan cara mengumpulkan telur-telur S. exigua dari daun bawang yang terserang kemudian dibuang atau dibenamkan ke dalam tanah. Pengendalian ini dengan menggunakan insektisida botani yang besaral dari ekstrak akar tuba dan ekstrak ketapang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S.exigua dengan dosis 2-4 cc/liter air.

Pengendalian pestisida harus dilakukan dengan benar, yakni pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya dan penggiliran tanaman denga tanaman yang bukan inang S.exigua. (mk)