Kerupuk dan Sebuah Sapaan Negara

By Admin

Andi Amran Sulaiman bersama pedagang kerupuk
nusakini.com, Di tengah langkah-langkah ringan orang yang berjalan santai, ada kehidupan lain yang berjalan lebih berat. Seorang pedagang kerupuk berdiri di antara kerumunan—membawa dagangan sederhana, tetapi juga tanggungan yang tidak sederhana.

Dari hasil sekitar Rp200 ribu sehari, ia menghidupi tujuh anaknya. Angka yang bagi sebagian orang mungkin kecil, tetapi baginya adalah seluruh dunia yang harus terus dijaga agar tidak runtuh.

Di ruang seperti itu, hidup tidak pernah benar-benar longgar. Ia hanya berjalan—hari ke hari—tanpa banyak pilihan selain bertahan.

Di tengah suasana itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menghampiri. Percakapan singkat terjadi. Tidak panjang, tidak pula rumit. Hanya cukup untuk membuat satu cerita yang biasanya tersembunyi, menjadi terdengar.

Lalu datang bantuan itu: Rp20 juta.

Barangkali bagi sebagian orang, itu sekadar angka. Namun bagi pedagang itu, ia bisa berarti tambahan dagangan, sedikit ruang bernapas, atau harapan yang selama ini harus dibagi tipis-tipis setiap hari.

Ia menerimanya dengan haru. Bukan hanya karena bantuan, tetapi karena—setidaknya pada saat itu—ia merasa tidak sepenuhnya sendiri.

Negeri ini sering berbicara tentang ekonomi dalam angka-angka besar. Namun sesungguhnya, ia ditopang oleh langkah-langkah kecil seperti milik pedagang kerupuk itu.

Ketika Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman hadir dan memberi, yang bekerja bukan hanya kebijakan, tetapi juga rasa: bahwa negara, meski sebentar, sempat menyapa.

Dan bagi mereka yang hidup dari hari ke hari, kadang itu sudah cukup berarti. (*)