nusakini.com-Makassar-Penguatan Profil Pelajar Pancasila di kalangan generasi muda merupakan agenda utama penguatan karakter dalam pendidikan. Namun, dengan arus globalisasi yang kian deras, mempertahankan tradisi budaya saat ini menjadi tantangan tersendiri. Melihat situasi tersebut, guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 7 Makassar, Rusnah, tidak kehilangan akal. Ia mengangkat praktik kearifan lokal Makassar dalam mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila dengan mengajak para siswa menapaki jejak-jejak budaya Bugis-Makassar yaitu kelong.

Menurut Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kelong adalah pantun bugis. Kelong umumnya berupa puisi atau pantun. Rusnah yang kala itu didaulat menjadi koordinator tema kearifan lokal di sekolahnya menuturkan, salah satu jenis sastra lisan Makassar ini perlu dipertahankan kelestariannya karena mengandung nilai budaya yang sangat berguna bagi masyarakat.

Awalnya saat pembagian kelompok praktik dalam implementasi Profil Pelajar Pancasila, jarang sekali siswanya yang tertarik untuk terlibat mengulas kearifan lokal Makassar ini. Namun Rusnah tetap bersemangat mengenalkan kelong kepada anak didiknya supaya mereka memiliki gambaran soal budaya daerahnya. “Kami pikir mungkin ini disebabkan karena anak belum familiar dengan kelong itu apa, sehingga mereka tidak tertarik,” ungkapnya.

Menurut Rusnah, ekosistem di sekolah menjadi salah satu penentu keberhasilan suatu program termasuk pengenalan budaya. Ia menilai, proses pembiasaan sangat penting untuk dilakukan terus menerus agar materi seutuhnya dapat dipahami dan dipraktikkan peserta didik. Oleh karena itu, saat upacara maupun sebelum memulai pelajaran, Rusnah terus mengenalkan kelong kepada peserta didiknya. “Akhirnya banyak yang tertarik dengan kelong dan di sinilah justru siswa tergerak rasa ingin tahunya terhadap sesuatu yang baru,” lanjut dia.

“Apa itu, Bu? Apa (jenis) kelong itu? Oh.. ternyata saya sering lihat juga di luar,” demikian ucap Rusnah, menirukan komentar anak-anak ketika mereka mendapat gambaran. Setelah itu, ia mengaku lebih mudah untuk memberikan ilmu kepada anak soal jenis, filosofi, dan manfaat kelong bagi generasi muda khususnya.

Rusnah mengajak peserta didiknya untuk mengawali pembelajaran kelong melalui artikel dan video. Dari situ, guru dan peserta didik bersama-sama mempelajari makna yang terkandung di dalam kelong tersebut. Dilanjutkan dengan mengajak anak-anak pergi ke sanggar seni di daerah Somba Opu, Gowa. Di sana, anak-anak langsung berinteraksi dengan pelaku seni yang sering mendapat undangan dari instansi luar negeri untuk mempromosikan budaya.

“Saya ini, Nak, gara-gara mempromosikan budaya sudah keliling dunia tanpa biaya,” ucap Serang Dakko, pegiat seni dari Sanggar Alam Serang Dakko, seraya memperlihatkan cara menari dan bermain gendang kepada anak-anak. Pernyataan beliau jugalah yang memantik semangat anak-anak untuk lebih memperdalam seni budaya Makassar.

Melihat antusiasme anak didiknya ini, ke depan Rusnah berencana untuk membuka ekstrakurikuler (ekskul) seni budaya. Ia terpikir untuk melibatkan sanggar-sanggar seni di sekitar sekolah. Nantinya, anak-anak akan dilatih untuk memperdalam kesenian tersebut yang akan menjadi aset bagi sekolah. “Kalau ada pementasan, anak-anak inilah yang kita libatkan,” ucap Rusnah yang bangga atas respons dan pencapaian peserta didiknya ketika dikenalkan dengan budaya yang mengangkat kearifan lokal Makassar.

Lebih lanjut, ia mengapresiasi penerapan Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan. Ia sangat senang ketika dapat mengajak peserta didik merasakan langsung pembelajaran ke lapangan. Sehingga mereka punya pengalaman tersendiri yang memancing kreativitas dalam berinovasi. Sebab, selama pandemi Covid-19, proses pembelajaran anak terhambat maka dengan projek semacam ini dapat membantu anak-anak memahami materi pembelajaran.

“Mudah-mudahan kurikulum seperti ini bisa terus berjalan lebih baik lagi karena penanaman karakter adalah sebuah proses yang tidak bisa instan hanya setahun atau dua tahun. Kami ingin implementasinya (Profil Pelajar Pancasila) dapat dikawal terus prosesnya baik oleh pusat maupun daerah. Sekarang ini saja, baru setahun kami jalankan di lapangan sudah banyak perubahan. Guru sudah punya juknis yang memberi arahan jelas kepada kami,” jelasnya.

Salah satu anak yang bernama Ali Rafif Juwandra menceritakan keseruannya selama menjalankan praktik kearifan lokal Makassar ini. Di mulai dari proses pembelajaran di kelas dari berbagai literatur, rapat persiapan bersama orang tua untuk merancang kegiatan observasi, turun lapangan, serta monitoring dan evaluasi. “Di akhir pembelajaran, guru meminta kami untuk membuat kesimpulan materi menggunakan bantuan aplikasi digital, kemudian mempresentasikannya di hadapan kelas,” urainya yang semula mengira bahwa kelong bermakna nyanyian karena secara kebetulan dalam bahasa Makassar kelong juga berarti nyanyian.

Melalui aktivitas yang dilakukannya, Rafif menyebut, manfaat yang terasa begitu dalam karena sebagai kaum muda ia diajak untuk mengenal kekayaan budaya daerahnya dan ikut berpartisipasi melestarikannya. “Kegiatan yang kami lakukan, kami publikasikan ke teman-teman kami melalui media sosial. Supaya mereka tahu dan kami ajak untuk ikut mempromosikan budaya Makassar karena siapa lagi yang peduli kalau bukan kita (generasi muda),” ujar Rafif, siswa SMPN 7 Makassar kelas 7 ini penuh semangat.

Rafif dan teman-temannya ketika diajak ke Benteng Somba Opu merasa senang karena bisa mempelajari sejarah dan budaya di masa lalu. “Kesempatan kami untuk terjun langsung ke lapangan seru sekali karena kami bisa mengetahui dan mengalami langsung. Kami juga diberi kebebasan untuk berkreasi dalam proses pembelajaran itu,” ungkap Rafif.

Tak ketinggalan, rekannya yang bernama I Kadek Yoga Dwiky turut berpesan kepada teman-teman sebayanya. “Sebagai generasi muda saya mengajak untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya Makassar,” tutupnya yang didukung oleh anggota kelompok yang lain.

Pada semester ini, SMPN 7 Makasaar mengangkat tiga tema besar dalam mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila, yaitu anti perundangan (bullying), kearifan lokal, dan hidup berkelanjutan. Kelong sendiri ada beberapa jenis, yaitu 1) anngaru adalah penyambutan tamu kehormatan, janji setia seorang hamba kepada rajanya, 2) sinrilik adalah kisah kepahlawanan, 3) pakkio bunting adalah syair untuk memanggil/ menyambut pengantin laki-laki, 4) kelong (dalam arti khusus "nyanyian"), 5) akrate adalah nyanyian pada saat memasuki rumah baru yang berisi doa (hampir sama baransaji, 6) akroyong adalah nyanyian pengantar tidur/nina bobo, serta 7) paruntukkana adalah peribahasa. (rls)