(Opini) Era Teknologi Informasi Memerlukan Transformasi Kelembagaan

By Admin


Oleh: Makmur Gazali


Latar Belakang

TUNTUTAN zaman di era digital 4.0 menjadikan sebuah lembaga atau perusahaan harus memiliki karakter terbuka (transparan) dan inovatif. Transparansi atau keterbukaan bukan lagi hanya sebuah jargon namun memang harus diimplementasikan bila sebuah perusahaan/lembaga tetap kompetitif. 

Arus perubahan zaman menjadikan sebuah lembaga harus terus melakukan adaptasi dan inovasi tanpa henti. Perubahan yang dahsyat dari teknologi informasi meletakkan sebuah lembaga/perusahaan seperti ‘rumah kaca’ yang demikian terbuka. 

Akses publik untuk mengetahui, menilai dan mempersepsi ‘anatomi’ sebuah perusahaan tidak bisa lagi diseleksi. Inilah yang memposisikan sebuah kelembagan terus menerus berada dalam dinamika persepsi publik yang rentan untuk disalah pahami dan disalah tafsirkan oleh publik. 

Dalam konstalasi seperti itu, mau-tak mau, suka-tak suka, manajemen harus melakukan trasformasi kultur (budaya) dalam kelembagaan. Keterbukaan akses publik harus disikapi dengan membangun budaya perusahaan yang lebih mampu menjawab tantangan zaman ke depan. 

Salah satu transformasi budaya kelembagaan dalam manajemen yang harus dilakukan adalah meletakkan dinamika perubahan sebagai harga mati. 

Dengan kata lain, lembaga harus terlebih dahulu melakukan transformasi budaya dari sebelumnya yang dinilai pasif, birokratis, kaku dan bersifar satu arah (top down) menjadi lembaga yang proaktif, fleksibel, ramping, terbuka dan responsif terhadap perubahan. 

Transformasi budaya kelembagaan dalam era manajemen perubahan pertama-tama adalah merubah mindset dan paradigma. Transformasi budaya di lingkup kelembagaan menjadikan sumberdaya manusia bertalenta teknologi informasi menjadi aset yang demikian penting

Pada Mulanya Adalah Kesan

Era teknologi digital dengan efek alogaritma yang mengiringinya menjadi sebuah perusahaan sangat rentan diterpa isu terkait citra perusahaan di publik. Efek alogaritma sebagaimana diketahui pengertian Algoritma Pemrograman. Dalam matematika dan ilmu komputer, algoritma adalah urutan atau langkah-langkah untuk penghitungan atau untuk menyelesaikan suatu masalah yang ditulis secara berurutan. Sehingga, algoritma pemrograman adalah urutan atau langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah pemrograman komputer. Dengan demikian alogaritma merupakan sebuah proses pemograman yang terus bekerja dan beruntun dalam proses penggandaan terus menerus. 

Bila dikaitkan dengan revolusi teknologi informasi digital yang membidani lahirnya media-media sosial baru komunikasi publik berbasis komputer dan internet, maka era lama komunikasi publik yang memiliki ciri terpusat, terkontrol dan searah, kini berubah menjadi komunikasi tanpa mengenal pusat, tak mampu dikontrol serta sangat dominan dengan sifat interaktifnya. 

Kini, dengan memakai media komunikasi yang dikenal dengan istilah medsos, setiap orang mampu memproduksi sekaligus menyebar konten informasikomunikasi yang dampaknya bagai bola salju bila konten tersebut kembali disebar ulang oleh orang lain yang terkoneksi dengan produsen konten pertama. Ini semakin membesar (sebut: viral) bila konten informasi tersebut terus menerus disebar dengan pelipat-gandaan yang tak terbatas. 

Bisa dibayangkan, bagaimana sebuah informasi terus menyebar dan membentuk opini dan kesan publik. Terlepas dari kebenaran informasi tersebut atau hanya sebuah informasi palsu (hoaks dan fake news), bila disebar secara terus menerus dan berlipat-ganda, maka secara cepat mampu membentuk kesan atau opini publik. 

Kesan atau opini publik inilah yang paling rawan dan cenderung tak terkendali di era digital informasi saat ini. Sekali sebuah isu tersebar liar ke ranah medsos, tak ada yang bisa memprediksi bakal ke mana ujung dan dampak dari isu teraebut. Apalagi bila isu tersebut merupakan isu negatif yang merusak citra kelembagaan maka dalam seketika, isu tersebut bisa menjadi titik awal runtuhnya kredibilitas lembaga tersebut di mata publik. 

Dengan demikian, manajemen perubahan adalah manajemen pengelolaan kesan atau citra dengan memakai metode Algoritma (tersusun dan memakai teknik berurutan) saat ini sangat diperlukan oleh lembaga. Manajemen pengelolaan kesan ini bukan hanya diperlukan saat sebuah perusahaan diterpa isu negatif, namun dibangun dan dikelola terus menerus dengan memakai metode tertentu. Salah satu metode pelengelolaan kesan yang banyak disarankan oleh pakar adalah pengelolaan kesan dengan pendekatan repitisi terus menerus kinerja positif perusahaan sekaligus mendekatkan perusahaan dengan publik. Ini bisa dilakukan bila perusahaan tersebut menerapkan kebijakan transparansi serta aktif membangun ruang komunikasi interaktif dengan publik. 

Titik kunci dari manajemen perubahan adalah perlunya melakukan transformasi budaya kelembagaan dalam era digital dan revolusi teknologi saat ini. (.)

Penulis adalah jurnalis dan pemerhati media