Smelter IWIP Terancam Defisit 30 Juta Ton Bijih Nikel, Industri Bisa Bergantung pada Pasokan Luar Daerah

By Admin


Ilustrasi Tambang Nikel
nusakini.com, Jakarta – Potensi kekurangan pasokan bijih nikel hingga 30 juta ton membayangi operasional smelter di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, apabila revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 PT Weda Bay Nickel (WBN) tidak memperoleh persetujuan.

Peringatan tersebut disampaikan CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, yang menilai kebutuhan bahan baku industri pengolahan nikel di kawasan IWIP jauh lebih besar dibandingkan kuota produksi yang saat ini tersedia.

Menurut Baudelet, konsumsi bijih nikel untuk seluruh smelter di kawasan IWIP pada 2025 mencapai sekitar 120 juta ton. Dari jumlah tersebut, PT Weda Bay Nickel memasok sekitar 42 juta ton.

Namun pada 2026, kuota produksi yang telah disetujui untuk WBN hanya mencapai 12 juta ton dan disebut telah habis. Kondisi itu berpotensi menciptakan kesenjangan pasokan yang signifikan bagi industri pengolahan nikel di kawasan tersebut.

“Jika tidak ada perpanjangan, akan terjadi defisit sekitar 30 juta ton dari pasokan Weda Bay Nickel,” kata Baudelet dalam Indonesia Critical Mineral Conference pada awal Juni 2026.

Apabila skenario itu terjadi, perusahaan-perusahaan smelter di IWIP diperkirakan harus mencari sumber bijih alternatif dari wilayah lain, terutama Sulawesi maupun Filipina.

Namun, langkah tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi. Baudelet menjelaskan harga bijih dari luar Maluku Utara umumnya lebih tinggi dibandingkan bijih yang diproduksi WBN karena faktor logistik dan struktur biaya pasokan.

Kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan baku muncul bersamaan dengan laporan penurunan produksi nickel pig iron (NPI) di kawasan IWIP. Data Shanghai Metals Market (SMM) menunjukkan sejumlah smelter RKEF mengalami pengurangan produksi akibat keterbatasan bijih dan tingginya biaya operasional.

Selain itu, beberapa lini produksi juga menjalani penghentian sementara untuk pemeliharaan. Situasi tersebut menyebabkan produksi NPI berkadar tinggi di kawasan IWIP diperkirakan turun 10 hingga 15 persen dalam beberapa bulan ke depan.

Perkembangan ini menegaskan bahwa keberlangsungan industri hilirisasi nikel nasional tidak hanya bergantung pada kapasitas smelter, tetapi juga pada kepastian pasokan bijih sebagai bahan baku utama. Dengan kebutuhan yang terus meningkat, keputusan terkait RKAB dan distribusi pasokan nikel diperkirakan akan menjadi faktor penting bagi stabilitas rantai industri pengolahan nikel Indonesia. (*)