Yantie Rachim dan Harapan yang Dinyalakan Kembali

By Admin

Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim

nusakini.com, Pagi itu, di Posyandu Bunga Harapan 2, Kelurahan Baranangsiang, suara anak-anak terdengar biasa saja: tangis balita, obrolan para ibu, dan langkah-langkah kecil yang hilir mudik di ruang sederhana. Tidak ada yang tampak luar biasa. Namun justru di tempat seperti itulah, kehidupan sering memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.

Di sela kunjungan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim, bertemu seorang anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya. Bukan karena malas. Bukan pula karena kehilangan cita-cita. Hanya karena keadaan ekonomi keluarganya tidak lagi sanggup menopang ongkos pendidikan.

Di negeri ini, banyak masa depan anak berhenti bukan oleh kurangnya kemampuan, melainkan oleh hal-hal kecil yang terasa mahal bagi keluarga miskin: seragam, buku, uang transportasi, atau sekadar uang jajan agar seorang anak tidak merasa asing di antara teman-temannya.

Anak-anak yang putus sekolah sering belajar menanggung malu terlalu dini. Mereka melihat teman sebayanya berangkat pagi dengan seragam, sementara dirinya perlahan tinggal di rumah, membantu orang tua, atau sekadar menunggu hari berjalan tanpa arah yang jelas.

Yantie Rachim tidak berhenti pada rasa iba. Saat itu juga ia menghubungkan anak tersebut dengan program PKBM di wilayah Baranangsiang agar bisa kembali melanjutkan pendidikan.

Langkah itu mungkin tampak kecil. Tetapi bagi seorang anak, kesempatan kembali belajar bisa berarti pintu hidup yang dibuka lagi setelah nyaris tertutup.

Di Kantor Kecamatan Bogor Timur, Rabu (20/5/2026), Yantie mengatakan bahwa Posyandu 6 SPM bukan hanya tempat pelayanan kesehatan masyarakat, melainkan ruang untuk melihat langsung kondisi sosial, tumbuh kembang, hingga pendidikan karakter anak-anak.

Pernyataan itu terasa penting karena kehidupan warga kecil memang tidak pernah terpisah-pisah. Anak yang datang ke Posyandu bukan hanya soal berat badan dan imunisasi. Ia membawa seluruh kenyataan hidup keluarganya: penghasilan orang tua, kondisi rumah, kecukupan gizi, hingga keberlanjutan sekolahnya.

Karena itu, Posyandu sesungguhnya dapat menjadi tempat negara hadir dalam bentuk yang paling manusiawi—bukan sekadar mencatat angka, tetapi mengenali wajah dan nasib warganya.

“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat, berakhlak baik, dan memperoleh pendidikan yang layak demi masa depan yang lebih cerah,” ujar Yantie.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi keluarga yang hidup pas-pasan, pendidikan sering kali terasa seperti kemewahan yang harus diperjuangkan setiap hari. Di tengah kota yang terus berkembang, masih ada anak-anak yang perlahan hilang dari ruang kelas tanpa banyak diperhatikan.

Mereka tidak selalu menangis keras.

Kadang mereka hanya berhenti datang ke sekolah, lalu dunia berjalan seperti biasa.

Melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kota Bogor dalam Gebyar PKBM HJB ke-544, sebanyak 544 peserta didik mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C secara gratis hingga memperoleh ijazah.

Di balik angka itu sesungguhnya ada ratusan kisah manusia. Ada anak yang kembali berani bermimpi. Ada orang tua yang diam-diam lega karena anaknya memperoleh kesempatan kedua. Dan ada keyakinan kecil bahwa hidup tidak harus berhenti hanya karena kemiskinan.

Pendidikan bagi keluarga sederhana bukan sekadar urusan ijazah. Ia adalah cara menjaga martabat dan harapan agar tidak padam terlalu cepat.

Di zaman ketika kota sibuk membangun gedung dan mengejar kemajuan, mungkin pertanyaan paling penting justru tetap sederhana: masih adakah anak yang tertinggal di belakang?

Sebab kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari jalan yang lebar atau lampu yang terang, melainkan dari seberapa banyak anak-anak di dalamnya masih punya kesempatan untuk percaya pada masa depan. (*)