AS Tolak Fasilitasi Kepulangan Pemimpin Oposisi Venezuela Pasca-Gempa
By Admin

María Corina Machado
nusakini.com, Washington — Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan menolak permohonan pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, yang meminta bantuan fasilitas untuk kembali ke negaranya. Penolakan ini terjadi setelah Venezuela dilanda dua gempa besar pada Rabu (24/6/2026) lalu. Langkah Washington tersebut diambil demi menjaga kelancaran penyaluran bantuan kemanusiaan yang sedang berjalan di negara tersebut.
Pernyataan dari sejumlah pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump ini pertama kali dimuat oleh media The New York Times pada Kamis (2/7/2026). Pihak Gedung Putih menilai bahwa kepulangan tokoh oposisi tersebut berpotensi memicu ketegangan politik baru di tengah situasi darurat pascabencana.
Salah seorang pejabat senior Amerika Serikat menyatakan bahwa upaya Machado untuk kembali ke negaranya saat ini dinilai kurang tepat karena situasi lapangan sedang berfokus pada kedaruratan terhitung sejak bencana terjadi pekan lalu. Berdasarkan pertimbangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Washington tidak menghendaki misi kemanusiaan internasional tersebut berubah menjadi panggung perebutan pengaruh politik domestik.
Selain itu, terdapat kekhawatiran dari internal pemerintahan Donald Trump mengenai aspek keselamatan. Jika Washington memfasilitasi dan mendampingi kepulangan tokoh oposisi tersebut, pihak AS diduga harus memberikan jaminan keamanan khusus. Langkah ini dikhawatirkan dapat menyeret Amerika Serikat terlalu jauh ke dalam konflik internal politik Venezuela.
Hubungan antara kelompok Machado dan Gedung Putih dikabarkan merenggang setelah adanya permintaan dari pihak oposisi untuk dilibatkan dalam pengelolaan logistik pascabencana. Menurut laporan Axios, permohonan tersebut ditolak karena berpotensi mengacaukan jalur koordinasi dengan otoritas lokal di Venezuela yang saat ini memegang kendali penanganan dampak gempa.
Sebelum adanya penolakan resmi ini, Machado dikabarkan sempat mencoba masuk ke Venezuela melalui jalur Kepulauan Curaçao pada akhir pekan lalu. Kendati demikian, otoritas Belanda selaku penanggung jawab hubungan luar negeri wilayah tersebut dilaporkan menolak memberikan izin pelintasan karena belum mengantongi lampu hijau dari pemerintah Amerika Serikat.
Sementara itu, dua gempa kuat bermagnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela menurut data United States Geological Survey (USGS) telah memicu krisis kemanusiaan yang mendalam. Data resmi pemerintah setempat mencatat jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 2.295 orang, sedangkan 11.267 warga lainnya mengalami luka-luka. Bencana ini juga melumpuhkan fasilitas kesehatan, memutus jalur transportasi, serta merusak ratusan tempat tinggal warga. Saat ini, fokus utama berbagai lembaga bantuan internasional adalah menyalurkan kebutuhan pokok dan memulihkan akses air bersih bagi para korban. (*)