El Nino Hantam Smelter Nikel di Sulawesi, Ratusan Pekerja Terancam Dirumahkan

By Admin


Ilustrasi Nikel

nusakini.com, Kemarau panjang akibat fenomena El Nino dipastikan belum mengganggu operasional sebagian besar fasilitas pemurnian nikel di wilayah Sulawesi. Hal tersebut disampaikan secara resmi oleh asosiasi pengusaha industri terkait pada Senin (31/8/2026).

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyatakan bahwa lokasi proyek pengolahan skala besar masih beroperasi normal. “Saat ini belum ada lokasi proyek pengolahan dan pemurnian nikel lainnya yang terdampak secara langsung akibat fenomena El Niño tahun ini,” kata Arif.

Meskipun demikian, para pelaku industri mengaku tetap menyiapkan strategi mitigasi khusus guna menghadapi cuaca panas ekstrem. Antisipasi ini dianggap sangat penting karena musim kemarau diprediksi akan berlangsung jauh lebih lama dari biasanya.

Berdasarkan data prakiraan cuaca dari BMKG, kondisi kering ini berpotensi terus melanda wilayah Indonesia hingga April 2027. Situasi tersebut memaksa perusahaan tambang untuk lebih waspada terhadap segala potensi gangguan teknis di lapangan.

Di sisi lain, dampak nyata kekeringan dilaporkan mulai menghantam fasilitas milik PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) di Kabupaten Luwu. Pabrik yang bernaung di bawah Kalla Group ini dikabarkan mengalami krisis pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Penurunan debit air waduk ini memicu tersendatnya kegiatan produksi pada smelter RKEF 1 milik perusahaan tersebut. Akibat kendala teknis itu, pihak manajemen dikabarkan tengah berencana merumahkan sekitar 570 orang pekerjanya.

Walau dirumahkan sementara, ratusan buruh tersebut dilaporkan akan tetap menerima hak keuangan mereka sebagai karyawan aktif. Hingga berita ini diturunkan, perwakilan manajemen Kalla Group belum memberikan konfirmasi resmi terkait langkah efisiensi tersebut.

Sementara itu, lembaga riset Shanghai Metals Market (SMM) dalam laporannya pada Jumat (28/8/2026) turut menyoroti krisis di Luwu. Mereka mencatat bahwa keterbatasan sumber air murni telah mengganggu suplai energi ke sejumlah fasilitas peleburan lokal.

Beruntungnya, kawasan industri raksasa seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) masih aman. Curah hujan yang minim di daerah tersebut diklaim belum mempengaruhi aktivitas hilirisasi nikel secara signifikan.

Mengenai potensi kerugian nasional, FINI mengaku belum memiliki kalkulasi akhir terkait dampak cuaca buruk ini. “Saat ini belum ada hitungan pasti dampak akibat kondisi ini terhadap angka produksi nikel dan nilai ekspornya pada tahun ini,” ujar Arif menutup pernyataannya.

Sebagai informasi tambahan, PT BMS saat ini mengoperasikan smelter feronikel pirometalurgi dengan kapasitas 33.000 ton per tahun. Mereka juga tengah membangun fasilitas pengolahan hidrometalurgi baru yang menargetkan produksi hingga 31.400 ton nikel sulfat. (*)