Harga Bijih Nikel Melemah, Industri Smelter Berpeluang Tekan Biaya Bahan Baku

By Admin


Ilustrasi Pemuatan Nikel
nusakini.com, Jakarta – Penurunan Harga Mineral Acuan (HMA) nikel pada periode kedua Juni 2026 membawa dampak berbeda bagi rantai industri hilir. Di tengah koreksi harga yang dialami sektor pertambangan, industri pengolahan dan smelter justru berpotensi memperoleh keuntungan dari penurunan biaya bahan baku.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HMA nikel Juni 2026 periode kedua sebesar US$18.642,33 per wet metric ton (wmt), atau turun US$156,96 dibandingkan periode pertama yang tercatat US$18.799,29 per wmt.

Penyesuaian tersebut turut menurunkan Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel untuk seluruh kadar. Baik kategori MC 30 persen maupun MC 35 persen mengalami pelemahan harga secara merata.

Pada kategori MC 30 persen, harga bijih nikel kadar 1,50 persen turun dari US$70,27 menjadi US$69,71 per wmt. Untuk kadar 1,80 persen, harga bergerak turun dari US$88,83 menjadi US$88,11 per wmt.

Sementara itu, pada kategori MC 35 persen, kadar 1,50 persen mengalami penurunan dari US$65,25 menjadi US$64,73 per wmt. Kadar 1,80 persen juga terkoreksi dari US$82,48 menjadi US$81,82 per wmt.

Bagi industri smelter, tren ini dapat memberikan ruang penghematan biaya pengadaan bahan baku dalam jangka pendek. Dengan harga bijih yang lebih rendah, biaya produksi feronikel, nickel pig iron (NPI), maupun bahan baku untuk rantai pasok baterai berpotensi menjadi lebih efisien.

Namun demikian, pelaku industri hilir tetap harus mencermati perkembangan pasar global. Permintaan nikel yang belum sepenuhnya pulih dari sektor baja nirkarat dan kendaraan listrik masih menjadi faktor yang memengaruhi arah harga.

Di sisi lain, peningkatan produksi dari sejumlah negara produsen turut memberikan tekanan terhadap pasar. Kondisi tersebut membuat harga nikel internasional bergerak dalam tren yang cenderung melemah selama beberapa waktu terakhir.

Koreksi harga terbesar pada Juni periode kedua terjadi pada bijih nikel kadar 1,80 persen. Penurunan mencapai US$0,72 per wmt untuk kategori MC 30 persen dan US$0,66 per wmt untuk kategori MC 35 persen. Adapun kadar 1,10 persen mencatat penurunan paling rendah dibandingkan kelompok kadar lainnya.

Pelaku industri menilai prospek harga nikel hingga semester kedua 2026 masih akan dipengaruhi oleh pertumbuhan kendaraan listrik global, kapasitas produksi smelter di Indonesia dan Tiongkok, serta implementasi kebijakan harga mineral nasional yang mengacu pada formula terbaru pemerintah. (*)