Ketika Canting Menjadi Doa Sunyi, dan Seorang Ketua Memilih Hadir

By Admin

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kota Bogor, Yantie Rachim
nusakini.com, Di tengah riuh percakapan dan langkah-langkah yang bergegas di pusat perbelanjaan, ada sudut kecil yang menghadirkan keheningan berbeda. Bukan sunyi tanpa suara, melainkan sunyi yang lahir dari ketekunan tangan-tangan yang memegang canting. Malam cair menetes perlahan di atas kain putih, seolah setiap garis yang ditarik adalah ungkapan hati yang tak selalu terucap.

Pekan ini, di sebuah atrium yang biasanya dipenuhi transaksi dan etalase gemerlap, masyarakat duduk bersama untuk membatik. Namun bagi Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kota Bogor, Yantie Rachim, peristiwa itu bukan sekadar agenda kegiatan. Ia memilih hadir bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai penggerak—sebagai seseorang yang ingin memastikan bahwa perhatian kepada pejuang kanker tidak berhenti pada kata-kata.

Dalam kesempatan itu, Yantie menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Tetapi lebih dari itu, sikapnya menunjukkan satu hal yang sederhana: kepedulian perlu dihidupkan, dirawat, dan diulang-ulang. Ia mengajak masyarakat untuk datang, membatik, dan berdonasi. Ajakan yang terdengar praktis, namun sesungguhnya mengandung pesan yang dalam—bahwa dukungan tidak harus menunggu menjadi besar.

Di sela kegiatan, pita pink dibagikan kepada pengunjung. Simbol kecil itu menjadi penanda bahwa ada perjuangan yang sedang berlangsung di luar keramaian pusat belanja. Yantie memahami, para pejuang kanker tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga penguatan moral. Karena itulah, ruang publik seperti ini diubahnya menjadi ruang empati.

Kolaborasi dengan Batik Handayani Geulis dan pelaku usaha lokal lainnya bukan sekadar kerja sama teknis. Ia merangkul berbagai pihak agar kepedulian menjadi gerakan bersama. Bagi Yantie, ketika pelaku UMKM bersedia menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk didonasikan, di situlah solidaritas menemukan bentuk nyatanya.

Motif tunggul kawung yang melambangkan kekuatan kota kecil terasa selaras dengan semangat yang ingin ia bangun. Kota yang mungkin tidak sebesar metropolitan, tetapi memiliki daya tahan dan hati yang hangat. Sementara ikon transportasi dalam motif batik menjadi metafora perjalanan—sebuah perjalanan panjang yang juga dijalani para pejuang kanker.

Di tengah proses yang masih berjalan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kanker, Yantie tampak meyakini bahwa perubahan tidak lahir dari satu tangan saja. Ia memilih menganyamnya perlahan—seperti membatik itu sendiri. Setiap garis mungkin tipis, tetapi bila ditorehkan bersama, ia membentuk gambar yang utuh.

Barangkali itulah yang ingin ia sampaikan tanpa banyak retorika: bahwa kepedulian adalah kerja sunyi yang harus terus dirawat. Bahwa hadir di tengah masyarakat, mengajak, merangkul, dan menghubungkan satu pihak dengan pihak lain, adalah bagian dari tanggung jawab moral.

Dan ketika malam mengering di atas kain, mungkin yang tertinggal bukan hanya motif indah. Ada keyakinan yang tumbuh pelan-pelan—bahwa di kota ini, para pejuang kanker tidak dibiarkan berjuang sendirian. Ada seorang ketua yayasan yang tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi memilih berdiri di tengah warga, menyalakan empati, setitik demi setitik. (*)