Mengembalikan Nakhoda PBNU ke Trah Pendiri Tebuireng
By Admin

KH Abdul Hakim Mahfudz
nusakini.com, Darah sang perintis Nahdlatul Ulama kini kembali mengalir kuat di pucuk pimpinan tertinggi organisasi Islam terbesar Nusantara tersebut. Pria bernama lengkap KH Abdul Hakim Mahfudz yang terpilih pada perhelatan muktamar pekan ini harus memikul beban sejarah sebagai cicit langsung dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Jalan takdir seolah terus menuntun ulama kelahiran tahun 1958 ini untuk berada di garis depan dalam merawat warisan leluhurnya. Belakangan ini, ia mendedikasikan hidupnya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng demi meneruskan estafet kepemimpinan pamannya, mendiang KH Salahuddin Wahid.
Tanggung jawab besar merawat salah satu pusat pendidikan Islam tertua itu mulai diembannya sejak sang paman berpulang pada enam tahun silam. Kiprah keteladanannya dalam menjaga muruah pesantren legendaris tersebut lambat laun makin mengukuhkan posisi kulturalnya di mata para nahdliyin se-Indonesia.
Dorongan agar dirinya turun gunung memimpin PBNU bermula dari harapan di akar rumput yang ditangkap oleh jajaran pengurus wilayah. Merespons aspirasi tersebut, PWNU Jawa Timur lantas menyerahkan mandat pencalonan secara resmi kepada sepupu jauh KH Abdurrahman Wahid ini pada pertengahan tahun ini.
Mandat struktural yang diterimanya tidaklah lahir dari ruang hampa, melainkan didasari oleh rekam jejak panjang pengabdiannya di tingkat daerah hingga pusat. Sebelum melangkah mulus ke bursa pencalonan muktamar, ia diketahui tengah aktif menjalankan amanah krusial sebagai ketua di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur.
Dinamika pemilihan yang sempat menempatkannya sebagai peraih suara terbanyak bersama empat kandidat lain akhirnya diselesaikan dengan jalan penuh kebijaksanaan. Pertemuan tertutup sembilan ulama khos dalam sistem majelis berhasil membebaskan organisasi dari ketegangan politik dan mengembalikan marwah pemilihan pada nilai permusyawaratan murni.
Dalam berbagai silaturahmi pergerakannya akhir-akhir ini, Gus Kikin secara konsisten menyuarakan kerinduannya pada kebangkitan adab dan sanad keilmuan para santri. Ia meyakini betul bahwa spirit Qanun Asasi NU harus dihidupkan kembali sebagai kompas yang memandu arah gerak jutaan warga nahdliyin.
Lebih dari sekadar menata urusan ubudiah atau ritual keagamaan semata, visi kepemimpinannya juga bertekad menjangkau kesejahteraan materiil umat. Pengembangan potensi ekonomi warga secara berkelanjutan diyakini sebagai fondasi kemandirian yang akan ia bangun secara serius selama masa khidmah mendatang.
Sikap kepasrahannya pada keputusan para kiai sepuh Nusantara berujung pada sebuah ketetapan bulat dalam sidang majelis Ahlul Halli Wal Aqdi. Kesepakatan dari para kiai tanpa pemungutan suara ulang ini menjadi bentuk legitimasi moral tertinggi yang secara menyejukkan mengantarkannya ke kursi kepemimpinan.
Keputusan mufakat dari para penjaga tradisi organisasi itu pada akhirnya diumumkan secara luas di hadapan ribuan peserta sidang pleno. “Setelah melakukan musyawarah dari lima calon yang diajukan, maka anggota AHWA secara mufakat untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketum PBNU masa khidmah 2026-2031,” kata Kiai Anwar. (*)