Peneliti Rekomendasikan Model Pembelajaran Bahasa Inggris yang Lebih Interaktif di Pesantren
By Admin
Empat Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN)
nusakini.com, Pendekatan pengajaran bahasa Inggris di pesantren dinilai perlu bertransformasi agar tidak hanya berfokus pada ketepatan tata bahasa, tetapi juga mendorong keberanian santri untuk berdiskusi, berargumentasi, dan menyampaikan gagasan secara kritis.
Hasil penelitian yang dilakukan empat alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menawarkan rekomendasi baru bagi pengembangan pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pesantren. Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam International Journal of Language Teaching and Education (IJOLTE) Volume 10 Nomor 1 Tahun 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Haikal Attabik, Mailiza Zainiza, Anggraeni Khusuma Dewi, dan Agung Ahdiansyah menyoroti faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan berbicara bahasa Inggris santri di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Salah satu temuan penting dalam penelitian itu adalah masih kuatnya budaya pembelajaran yang berorientasi pada ketepatan struktur bahasa atau accuracy-focused. Kondisi tersebut dinilai memiliki dampak terhadap kepercayaan diri peserta didik saat menggunakan bahasa Inggris.
Agung Ahdiansyah menjelaskan bahwa tekanan untuk selalu menggunakan struktur kalimat yang benar dapat memunculkan kecemasan dalam proses belajar.
“Fokus yang terlalu besar pada kebenaran tata bahasa berpotensi membuat santri lebih berhati-hati dalam berbicara sehingga ruang eksplorasi gagasan menjadi terbatas,” katanya.
Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan transformasi pendekatan pembelajaran menuju model yang lebih interaktif dan kontekstual. Beberapa metode yang disarankan antara lain forum pemecahan masalah, diskusi kelompok, hingga kegiatan berbagi opini yang relevan dengan kehidupan santri.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus melatih keterampilan berpikir kritis tanpa meninggalkan karakteristik dan nilai-nilai khas pesantren.
Selain itu, pengembangan materi pembelajaran secara bertahap juga dianggap penting agar santri mampu beradaptasi dengan bentuk komunikasi yang lebih kompleks di tingkat akademik maupun profesional.
Melalui rekomendasi tersebut, para peneliti berharap pesantren dapat terus memperkuat kualitas pendidikan bahasa asing dengan memadukan penguasaan bahasa, kemampuan berpikir kritis, dan nilai-nilai kepesantrenan dalam satu ekosistem pembelajaran yang seimbang.