PM Timor Leste Terima Gelar Kehormatan Tertinggi dari Universitas Hasanuddin
By Admin

Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmao/ Dok Humas Unhas
nusakini.com, Universitas Hasanuddin (Unhas) secara resmi memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmao. Penganugerahan ini berlangsung dalam Sidang Senat Akademik Terbuka di Baruga A.P. Pettarani, Makassar, pada Sabtu (5/9/2026).
Pemberian gelar akademik tertinggi ini didasarkan pada rekam jejak panjang sang tokoh di kancah internasional. Unhas menilai Xanana memiliki kontribusi besar dalam bidang perdamaian dan penegakan nilai kemanusiaan.
Promotor penganugerahan, Prof. Hafid Abbas, menyebut perjalanan hidup Xanana sangat sarat akan makna ketangguhan. Tokoh ini dianggap sukses bertransformasi dari seorang pemimpin perlawanan menjadi tokoh perdamaian sejati.
“Dirinya memimpin rakyatnya melewati masa-masa paling sulit dalam perjuangan menuju kemerdekaan, dari medan perlawanan hingga ke ruang-ruang diplomasi,” ujar Prof. Hafid. Ia menambahkan bahwa sang PM berhasil menunjukkan kebesaran hati pascakonflik berdarah.
Keputusan Xanana untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia pascakonflik menjadi sorotan utama senat akademik. Langkah memaafkan masa lalu ini dianggap berhasil mencegah lahirnya warisan kebencian antargenerasi di kedua negara.
Selain rekonsiliasi, Unhas juga mengapresiasi upaya Xanana dalam membangun institusi negara yang lebih demokratis. Sang Perdana Menteri dinilai terus memperjuangkan nasib rakyatnya melalui koridor hukum maupun diplomasi internasional.
Pihak kampus berharap penghargaan ini dapat mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Timor-Leste. Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara di sektor akademik.
“Penganugerahan ini memiliki makna strategis bagi Unhas untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Timor-Leste,” kata Prof. Jamaluddin Jompa. Kerja sama ini diharapkan membawa dampak positif bagi pengembangan sumber daya manusia melalui pertukaran pendidikan.
Langkah taktis tersebut dinilai dapat membuka peluang riset bersama yang lebih komprehensif ke depannya. Momentum pemberian gelar ini menjadi bukti nyata bahwa institusi pendidikan mampu menjembatani kerja sama antarnegara. (*)