Peta Politik Timur Indonesia: Eksistensi Amran Sulaiman Melesat di Era Kabinet Prabowo
By Admin
Kepala Pusat Penelitian Opini Publik, Demokrasi, dan Pembangunan LPPM Unhas, Prof. Imam Mujahidin Fahmid
nusakini.com, Podium LPPM Universitas Hasanuddin (Unhas) memaparkan temuan terbaru mereka terkait pandangan masyarakat Kawasan Timur Indonesia (KTI) terhadap dinamika kepemimpinan nasional di Hotel Unhas, Makassar, pada Rabu (21/10/2026). Survei bertema refleksi dua tahun masa jabatan Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan menghadirkan acuan publik berbasis sains demi menekan polarisasi politik di tengah masyarakat.
Kepala Podium LPPM Unhas, Prof. Imam Mujahidin Fahmid, menyebutkan bahwa mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai masih menjadi figur utama yang memahami problematika kawasan. Tokoh senior tersebut tercatat mengantongi tingkat kepercayaan tertinggi hingga 22,39 persen berdasarkan hasil pengumpulan data dari para responden.
Dua menteri kabinet saat ini, yakni Andi Amran Sulaiman dan Sjafrie Sjamsoeddin, dikabarkan menyusul di urutan kedua serta ketiga. "Ini fakta yang kita potret di lapangan," kata Prof. Imam saat menjelaskan dinamika elektabilitas yang dikumpulkan melalui metode penarikan sampel acak bertingkat tersebut.
Apabila nama Jusuf Kalla diabaikan dari daftar simulasi, dukungan elektoral untuk Amran Sulaiman dikabarkan melonjak signifikan menyentuh angka 19,44 persen. Sementara itu, Sjafrie Sjamsoeddin membayangi dengan perolehan 17,70 persen sebagai kandidat penerus aspirasi publik wilayah timur.
Eksistensi para tokoh politik tersebut dinilai sangat bergantung pada posisi strategis mereka di roda pemerintahan saat ini. "Kenapa Bahlil meningkat, selain menteri, dia ketua partai besar sehingga punya panggung untuk memperkenalkan diri," tutur sang guru besar pertanian tersebut.
Dalam simulasi pencalonan presiden dan wakil presiden, dukungan mayoritas responden kembali mengarah pada dua pejabat kementerian itu. Andi Amran Sulaiman dilaporkan memperoleh 19,22 persen dukungan, sedangkan Sjafrie Sjamsoeddin diyakini oleh 18,67 persen masyarakat yang berpartisipasi dalam riset.
Kendati demikian, kelompok masyarakat yang menyatakan belum memiliki pilihan dipastikan masih mendominasi dengan besaran mencapai 47,21 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa para kandidat masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk meyakinkan ceruk pemilih di wilayah timur Nusantara.
Upaya melahirkan representasi baru dari wilayah timur dinilai membutuhkan kolaborasi antarfigur agar tidak saling merugikan di kancah nasional. Prof. Imam menegaskan, "Kalau mau ada tokoh dari timur harus dipersiapkan, tidak boleh saling meredupkan, harus saling mencahayakan." (*)