Camat Baru, Langkah Baru, Harapan Baru

By Admin

Camat Tri Sugiarto/ Dok. Ist

nusakini.com, Pagi itu, Kantor Kelurahan Maradekaya tidak sekadar menjadi ruang administrasi dengan meja-meja kayu dan berkas yang tersusun rapi. Ia menjelma ruang temu: tempat harapan, tanya, dan tekad saling bersilang dalam udara yang masih menyisakan embun Februari.

Di sana, Camat Makassar yang baru, Tri Sugiarto, S.STP., M.AP, berdiri bukan sebagai pejabat yang hendak memberi aba-aba dari ketinggian, melainkan sebagai sesama peziarah pelayanan. Jumat, 13 Februari 2026 itu, ia mengumpulkan RT, RW, Bhabinkamtibmas, Binmas, dan Linmas Kelurahan Maradekaya—orang-orang yang saban hari bersentuhan langsung dengan denyut nadi warga.

Ia datang membawa satu kalimat sederhana, namun penuh gema: “Salam Satu Komando.”

Bukan komando dalam arti keras dan kaku, melainkan keselarasan langkah. Sebab kota bukan hanya bangunan, dan pemerintahan bukan hanya aturan. Kota adalah manusia-manusia kecil yang berharap didengar; pemerintahan adalah tangan-tangan yang sudi menyentuh.

Tri Sugiarto memperkenalkan dirinya dengan tenang. Sebelumnya ia bertugas di Inspektorat Kota Makassar—tempat angka-angka dan laporan menjadi bahasa utama. Kini ia memilih bahasa yang lain: bahasa tatap muka dan pijakan di tanah lapangan.

“RT dan RW adalah ujung tombak,” katanya, suaranya tidak menggurui, lebih seperti mengajak. “Merekalah perpanjangan tangan Pemerintah Kota Makassar.”

Kalimat itu terdengar biasa, tetapi sesungguhnya mengandung pengakuan: bahwa kekuasaan tanpa akar hanya akan menjadi bayang-bayang. RT dan RW adalah akar itu—yang menahan tanah agar tak longsor oleh persoalan, yang menyerap air keluhan sebelum ia menjadi banjir.

Di Maradekaya, yang terdiri atas empat RW, persoalan bukanlah teka-teki besar yang abstrak. Ia hadir dalam wujud yang sangat nyata: sampah yang menumpuk, lorong yang perlu dijaga kebersihannya, warga yang perlu kepastian layanan.

Maka pembicaraan pun mengalir ke soal retribusi sampah. Ada yang bertanya tentang mekanisme, tentang hitungan KWH listrik, tentang kemungkinan perhitungan berdasarkan kubikasi—terutama bagi rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha. Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur bukan sebagai protes, melainkan sebagai tanda kepedulian.

Sampah, dalam kacamata birokrasi, mungkin hanya perkara regulasi dan retribusi. Tetapi dalam hidup sehari-hari, ia adalah cermin martabat. Lingkungan yang bersih bukan sekadar estetika; ia adalah pernyataan bahwa manusia menghargai ruang hidupnya.

Tri Sugiarto memahami itu. Karena itu ia tidak berhenti pada angka dan aturan. Ia berbicara tentang koordinasi, tentang pentingnya keselarasan antara camat, lurah, RT, dan RW. Tentang keberhasilan program Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang tidak akan pernah tercapai bila hanya menjadi slogan.

Di sudut ruangan, Lurah Maradekaya, Darwin, mengangguk-angguk kecil—seolah meneguhkan bahwa kerja pemerintahan bukan kerja sendiri-sendiri, melainkan kerja bersama.

Dan ketika Ketua RW 02, M. Yusran Anis, menyampaikan kesannya, ada nada optimisme yang jernih. Ia menyebut camat baru itu muda, enerjik, sombere—ramah dalam bahasa yang lebih hangat—dan tanggap. Sebuah harapan yang sederhana namun penting: pemimpin yang mau turun, bukan hanya naik panggung.

Mungkin rapat itu tak lebih dari beberapa jam dalam hitungan kalender. Tetapi bagi Maradekaya, ia bisa menjadi titik mula: bahwa pemerintahan bukanlah tembok tinggi, melainkan jembatan.

“Salam Satu Komando” pada akhirnya bukan hanya semboyan. Ia adalah ajakan untuk berjalan seirama—agar lorong-lorong tetap bersih, agar warga merasa dipeluk oleh pelayanan, agar kota tumbuh bukan sekadar dalam beton, tetapi dalam rasa saling percaya.

Di luar kantor kelurahan, kehidupan kembali bergerak seperti biasa. Anak-anak berlari di gang, pedagang membuka lapak, dan matahari kian tinggi. Namun barangkali, di antara hal-hal yang tampak biasa itu, telah ditanam satu benih kecil: sinergi.

Dan seperti segala benih, ia membutuhkan kesetiaan untuk dirawat.