Santri Darul Falah Ponorogo Tampil Pukau Penonton TVRI Jatim Lewat Ragam Kesenian

By Admin


Xpresi Kabaret di TVRI Jawa Timur

nusakini.com, Santri Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo, Ponorogo, unjuk kebolehan dalam program Xpresi Kabaret di TVRI Jawa Timur. Penampilan ini membuktikan bahwa institusi pendidikan berbasis agama juga mampu menjadi wadah pengembangan seni dan budaya yang inklusif.

Beragam pertunjukan seni tradisional hingga modern disajikan oleh para santri di atas panggung penyiaran televisi publik tersebut. Mereka menampilkan lantunan hadroh, tartil Al-Qur’an, kesenian Reog Ponorogo, hingga permainan orkestra dan pertunjukan musik akustik.

Pengasuh Pesantren Darul Falah, Gus Reza Arif Ahmadi (Jumat, 16/10), menyatakan bahwa pendidikan santri masa kini memiliki cakupan tanggung jawab yang sangat luas. Hal tersebut bertujuan untuk membentuk generasi yang memiliki keseimbangan antara kematangan spiritual mumpuni dan kecakapan hidup modern.

“Tugas pendidikan adalah membantu semua potensi itu tumbuh dalam koridor nilai dan akhlak,” sebut Gus Reza. Menurutnya, panggung kesenian publik menjadi sarana penanaman nilai karakter seperti kolaborasi dan kedisiplinan yang nyata bagi para anak didik.

Sementara itu, Ustadzah Sahila Fikriya menilai keterlibatan anak didiknya dalam acara televisi ini sebagai bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Persiapan panjang menuju hari pentas menuntut para santri untuk pandai mengelola tingkat emosi dan mampu bekerja sama secara tim.

“Mereka belajar disiplin, percaya kepada teman, mengelola rasa gugup, memperbaiki kesalahan, dan terus berlatih,” jelas Sahila. Ia meyakini nilai-nilai ketekunan tersebut akan menjadi bekal berharga bagi para santri saat terjun ke kehidupan masa depan.

Ustadzah Ivania Syarif juga menambahkan perlunya santri dipersiapkan untuk menghadapi ekosistem informasi digital yang sangat terbuka luas. Perlindungan dari dampak negatif zaman modern harus diimbangi dengan kemampuan santri dalam memberikan pengaruh positif kepada lingkungan masyarakat.

“Akhlak menjadi fondasi, sementara kreativitas dan teknologi menjadi alat untuk menghadirkan manfaat,” papar Ivania. Langkah strategis ini diharapkan mampu menjaga identitas orisinal pesantren tanpa membuat generasi muda tertinggal dari pesatnya kemajuan peradaban. (*)