Anggota DPR Dorong Mahasiswa Jadi Agen Sosialisasi Diversifikasi Pangan Lokal
By Admin
Anggota Komisi IV DPR RI
nusakini.com, Surakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet, mendorong perluasan sosialisasi konsep diversifikasi pangan kepada masyarakat, terutama kalangan mahasiswa. Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkuat pemahaman dan pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.
Hal itu disampaikan Slamet saat menghadiri kegiatan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, diversifikasi pangan tidak hanya dimaknai sebagai upaya menambah ragam jenis pangan selain beras. Lebih dari itu, diversifikasi merupakan langkah untuk menghidupkan kembali konsumsi pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari sejarah dan budaya masyarakat Indonesia.
“Kalau asumsi diversifikasi pangan adalah memperbanyak jenis pangan selain beras, mungkin istilah ini perlu mulai disosialisasikan kembali, terutama kepada mahasiswa. Kita ingin kembali kepada pangan lokal seperti jagung dan singkong yang memiliki ikatan historis yang kuat dengan masyarakat kita,” ujar Slamet.
Ia menilai kampus dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal. Dengan meningkatnya pemahaman generasi muda, upaya penguatan ketahanan pangan dinilai akan lebih mudah diwujudkan di berbagai daerah.
Selain mendukung pemanfaatan pangan lokal, Slamet menegaskan bahwa pembangunan sektor pangan harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pangan tidak hanya diukur dari tingkat produksi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.
“Kita ingin swasembada pangan, tapi harga terjangkau juga. Artinya, secara jumlah cukup, tetapi rakyat kita juga dapat menjangkaunya,” katanya.
Ia berharap konsep diversifikasi pangan dapat semakin dikenal luas sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu komoditas pangan utama dan lebih menghargai potensi pangan lokal yang tersedia di berbagai wilayah Indonesia. (*)